Lokadata.ID

Tabungan masyarakat tergerus, sinyal baik bagi ekonomi?

Ilustrasi: Karyawan menghitung uang pecahan Rp100 ribu dari setoran nasabah di Bank Bukopin Syariah, Jakarta (11/2/2021).
Ilustrasi: Karyawan menghitung uang pecahan Rp100 ribu dari setoran nasabah di Bank Bukopin Syariah, Jakarta (11/2/2021). Muhammad Adimaja / ANTARA FOTO

Tabungan masyarakat di bank yang terus membumbung tinggi sejak 2020, kini terlihat mulai tergerus sejak awal tahun ini. Melambatnya simpanan warga ini dinilai sebagai sinyal baik bagi upaya pemulihan ekonomi.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperlihatkan, sepanjang Februari lalu, tabungan masyarakat tumbuh mencapai 9,73 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp6.726 triliun. Meski positif, pertumbuhan ini melambat sejak November 2020 – yang pada saat itu masih naik 10,91 persen.

Jika dilihat berdasarkan kelompok besaran saldo, pertumbuhan tabungan warga ini didorong oleh kenaikan “rekening superjumbo” di atas Rp5 miliar yakni 13,17 persen yoy menjadi Rp3.283 triliun. Pada Januari 2021, rekening saldo terbesar ini juga tumbuh 12,42 persen.

Data yang sama menunjukkan, tabungan dengan saldo Rp100 juta sampai Rp1 miliar juga naik 7,73 persen yoy. Rekening di bawah Rp100 juta tumbuh 5,86 persen dan Rp1 miliar sampai Rp5 miliar 5,76 persen. Pertumbuhan ketiga kelompok saldo tersebut terus melambat sejak November 2020.

Dari data LPS juga menunjukkan bahwa, giro menjadi jenis simpanan dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 19,82 persen yoy diikuti kenaikan tabungan 11,59 persen.

Di periode yang sama, simpanan deposito juga masih tumbuh 3,82 persen secara tahunan, namun tercatat melambat sejak akhir tahun lalu. Sebaliknya, untuk sertifikat deposito dan deposito on call masing-masing turun 77,39 persen dan 8,29 persen.

Deposito merupakan jenis simpanan dengan porsi terbesar mencapai 40,9 persen atau setara Rp2.749 triliun. Kemudian, diikuti porsi tabungan sebesar 31,4 persen, giro 26,6 persen, deposit on call 1,1 persen, dan sertifikat deposito 0,1 persen.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, data laju simpanan masyarakat pada sepanjang Februari 2021 ini mengindikasikan “ekonomi sedang bergerak ke arah yang lebih cepat”. Kondisi ini diperlihatkan pertumbuhan giro yang tinggi dan secara bersamaan disertai penurunan deposito.

“Pada saat pelaku ekonomi akan meningkatkan aktivitasnya, mereka akan menambah uang kasnya dengan mengurangi deposito mereka,” kata Purbaya dalam rilisnya, Senin (5/4/2021).

Kepala ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual mengatakan, pertumbuhan simpanan masyarakat yang terus melambat mengindikasikan ekonomi mulai bergerak. Terlebih, kenaikan giro bersamaan dengan tabungan menjadi petunjuk bahwa masyarakat “sudah bersiap untuk berbelanja dan investasi”.

Namun demikian, David memberi catatan khusus soal pertumbuhan rekening di atas Rp5 miliar yang masih tinggi, bahkan sejak pertengahan 2020. Menurutnya, kondisi ini mencerminkan bahwa masyarakat kelas atas masih belum bisa atau cenderung menahan belanja.

“Mereka sebetulnya sudah menyiapkan dana, misalnya untuk liburan, tapi kan enggak bisa ke mana-mana. Mau beli barang durable goods juga masih melihat-lihat situasi,” kata David kepada Lokadata.id, Rabu (7/4/2021).

Survei Bank Indonesia (BI) soal indeks keyakinan konsumen (IKK) juga mencatat, per Februari 2021, IKK pada kelompok pengeluaran bawah dan menengah konsisten naik. Sedangkan kelas atas cenderung turun sejak Desember 2020.

Bank Sentral mencatat, per Februari 2021, IKK pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta, Rp2,1 juta sampai Rp3 juta naik, sedangkan IKK kelompok pengeluaran di atas Rp3,1 juta turun.