Lokadata.ID

Tak ada dialog, protes pemotongan insentif driver Gosend berlanjut?

Ilustrasi: Pengemudi  Gojek membawa kemasan paket dari Tokopedia di Titipaja Warehouse, Jakarta, Jumat (28/5/2021).
Ilustrasi: Pengemudi Gojek membawa kemasan paket dari Tokopedia di Titipaja Warehouse, Jakarta, Jumat (28/5/2021). Agung Rajasa / ANTARA FOTO

Yos Rizal, pebisnis makanan di Pamulang, yang biasa mengirim pesanan ke pelanggan dengan GoSend SameDay, sempat kaget ketika ordernya lama tidak berbalas. Ia akhirnya ganti aplikasi, baru kirimannya terangkut.

"Ya, ganti Grab aja," kata pebisnis makanan khusus untuk pelaku diet keto itu kepada Lokadata, Jumat (11/6/2021). Ia biasa mengirim 20-30 paket sehari ke pelanggannya.

Mitra driver Gojek yang biasa melayani pengiriman melalui GoKilat atau GoSend SameDay Delivery (SMD) melakukan aksi mogok massal dengan cara off bid sejak Selasa lalu. Aksi yang dilakukan GoSend se-Jabodetabek dan Bandung masih berlangsung hingga Jumat (11/6/2021) ini.

Aksi ini dipicu keputusan platform layanan on demand Gojek mengubah skema insentif pengiriman paket, yang menuai protes dari mitra pengemudi layanan GoKilat.

Koordinator aksi driver GoSend Jabodetabek, Yulianto mengatakan, mitra pengemudi masih belum mendapat tanggapan resmi dari Gojek sejak aksi off bid dilakukan pada hari pertama skema baru diterapkan, yaitu pada Selasa (8/6/2021).

“Dari hari pertama sampai ketiga sekitar 85-90 persen mitra GoSend same day se-Jabodetabek off bid atau mogok kerja. Tanggapan resmi dari Gojek belum ada sama sekali kita dapat, makanya kita masih cari info,” kata Yulianto kepada Lokadata.id, Jumat (11/6/2021).

Yulianto mengatakan, sebelum aksi pemogokan, pihaknya telah mensosialisasikan kepada para merchant atau toko online agar tidak mengaktifkan pengantaran dengan layanan GoSend SameDay. Sebab, mereka khawatir permintaan barang kiriman akan menumpuk karena mayoritas driver melakukan aksi mogok.

“Nanti kalau barang menumpuk imbasnya kan rating mereka juga jadi jelek karena kita masih melakukan aksi,” katanya.

Dalam keterangan resmi yang diterima Lokadata.id, Kamis (10/6), VP Corporate Communication Gojek, Audrey Petriny menyatakan seluruh layanan Gojek termasuk GoSend beroperasi seperti biasa.

Dia mengatakan, GoSend SameDay memang memberlakukan skema baru pemberian insentif bagi mitra pengemudi mulai Selasa (8/6/2021). Namun, Audrey menampik kabar tidak ada pembicaraan dengan mitra pengemudi.

“Sosialisasi kepada mitra driver terkait skema baru insentif ini telah dilakukan secara berkelanjutan. Adapun, insentif ini merupakan tambahan pendapatan, di luar pendapatan atau tarif pokok per jarak tempuh bagi mitra driver. Tidak ada perubahan pendapatan atau tarif pokok per jarak tempuh,” katanya.

Insentif mengecil

Tuntutan mitra GoSend adalah pembatalan skema baru insentif pengantaran yang dinilai merugikan driver. Selama ini mitra pengemudi mendapat penghasilan utama berupa tarif pokok per jarak tempuh, ditambah insentif. Besaran insentif ini yang mengalami penyesuaian.

Dalam skema baru, insentif GoSend Same Day di Jabodetabek untuk pengantaran 1-9 paket, mitra kurir mendapat bonus Rp1.000 per paket. Untuk 10-14 paket, bonus menjadi Rp2.000 per paket. Sementara, untuk 15 paket ke atas, bonusnya Rp2.500 per paket.

Skema insentif yang berlaku sebelumnya, mitra yang mengirim 5 paket mendapat bonus Rp10 ribu. Berikutnya, pengiriman minimal 8 paket mendapat bonus Rp30 ribu, 10 paket bonus Rp45 ribu, 13 paket bonus Rp60 ribu, dan 15 paket bonus Rp100 ribu.

Mitra pengemudi menilai skema baru itu menurunkan pendapatan mereka, sebab bonus yang diterima untuk mengantar 13 paket, misalnya, turun dari Rp60 ribu menjadi Rp26 ribu.

Mitra pengemudi biasanya mendapat pemasukan sekitar Rp200 ribu-Rp 240 ribu sebagai ongkos mengantar 13-14 paket dalam sehari, belum termasuk insentif. Ongkos kirim di area Jabodetabek sebesar Rp2.000 per kilometer.

Pendapatan itu masih dikurangi dengan biaya bensin dan pengeluaran lainnya. Alhasil, mitra pengemudi biasanya membawa pulang sekitar Rp160.000-Rp200.000. Pemasukan harian ini tidak tetap karena bergantung pada jumlah pesanan yang masuk.

Penghapusan minimum order

Audrey Petriny mengatakan, skema baru ini didesain berdasarkan prinsip untuk memberikan peluang yang lebih besar bagi lebih banyak mitra memperoleh insentif. “Yaitu dengan meniadakan minimum order,” kata dia.

Melalui skema baru ini, mitra dapat memperoleh insentif di setiap pesanan yang diselesaikan. Sebagai gambaran, dengan skema insentif lama, mitra dengan jumlah 1-4 pengantaran tidak mendapatkan insentif.

Dengan skema baru ini mereka bisa memperoleh insentif. Skema baru dan yang selama ini ada juga memberikan keleluasaan kepada mitra untuk menyelesaikan pengantaran dengan performa minimum 80 persen.

Kebijakan ini, kata Audrey merupakan langkah untuk lebih memeratakan jumlah mitra yang dapat memperoleh insentif. Sebab salah satu fokus utama saat ini adalah memastikan adanya ketersediaan pesanan bagi para mitra sehingga mereka dapat terus berpeluang untuk memperoleh pendapatan.

“Dengan dipertahankannya pendapatan pokok mitra, serta berbagai upaya untuk peningkatan order seperti inisiatif pemasaran, penguatan teknologi dan inovasi, mitra driver akan mendapatkan peluang yang lebih besar untuk penghasilan mereka secara berkesinambungan,” katanya.

Alasan manajemen Gojek ini tidak bisa diterima mitra pengemudi. Yulianto mengatakan, mogok akan dilanjutkan karena belum ada ajakan berdialog dari manajemen Gojek. “Tetapi ada juga yang karena kebutuhan, off bid 3 hari saja.”