Lokadata.ID
Telusur jejak turunan Portugis di Aceh
Rauzatul Jannah atau Rauzah (15), salah seorang yang diyakini sebagai keturunan Portugis di Lamno. Ia berkulit putih, matanya cokelat, kulit wajahnya berbintik merah, bulu mata dan alisnya pirang. Oviyandi/Beritagar

Telusur jejak turunan Portugis di Aceh

Banyak orang-orang Lamno berparas Eropa. Jarang yang punya mata berwarna biru, tetapi mereka sering disebut Si Mata Biru.

Kerumunan anak-anak bermain di depan Kantor Desa Gle Jong, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Minggu siang (12/11/2017). Beberapa anak perempuan menghambur keluar dari Balai Desa, mereka baru siap mengaji, dan lekas berbaur dengan anak-anak lain yang sedang bermain.

"Yang di atas sepeda itu keturunan Portugis, Si Mata Biru," kata Muhammad (35), warga Gle Jong, kepada Beritagar.id. Muhammad menunjuk seorang anak perempuan yang sedang mengayuh sepeda kecil.

Orang-orang di sana sering menggunakan julukan Si Mata Biru untuk mereka yang dianggap keturunan Portugis.

Bocah perempuan yang ditunjuk Muhammad memang punya rambut pirang dan kulit putih. Meski demikian, matanya tak biru melainkan hitam--seperti lazimnya orang Aceh.

Menurut Muhammad, bapak anak perempuan itu bernama Musa yang terkenal sebagai warga keturunan Portugis di Gle Jong. "Sayangnya, saat ini, dia sedang melaut. Susah kita berjumpa," katanya.

Beberapa keturunan Portugis lain yang disebut Muhammad juga tengah bekerja, umumnya sibuk bersawah.

Muhammad bilang, banyak Si Mata Biru dari Gle Jong yang tak lagi tinggal di desa tersebut, mereka pindah ke daerah lain--ke Banda Aceh, atau juga ke luar Aceh.

"Kalau hari raya baru ramai, kita bisa lihat. Semua mereka pulang," kata dia.

Foto kecil Rauzatul Jannah bersama adiknya, Nurul Qamariyah (kiri). Foto kecil Nurul Qamariyah (kanan).
Foto kecil Rauzatul Jannah bersama adiknya, Nurul Qamariyah (kiri). Foto kecil Nurul Qamariyah (kanan). Oviyandi / Beritagar.id

Kampung Gle Jong terletak di tepi Samudra Hindia dan termasuk dalam Kemukiman Kuala Daya. Selain Gle Jong, ada lima kampung lain yang masuk dalam kemukiman ini. Mukim adalah satuan pemerintahan adat di Aceh yang membawahi beberapa desa.

Sebutan Gle Jong diambil dari nama bukit tepi laut di kawasan desa tersebut. Di atas bukit itu, terdapat makam Po Teumeureuhom atau Sultan Saladin Ria'ayat Syah (meninggal 12 November 1508).

Po Teumeureuhom merupakan pemimpin Kerajaan Meureuhom Daya, yang wilayahnya mencakup kawasan Lamno saat ini.

Adapun Kecamatan Jaya awalnya mempunyai 48 kampung, tetapi setelah tsunami 2004 Jaya dimekarkan menjadi dua kecamatan; Jaya (34 kampung) dan Indra Jaya (14 kampung). Namun, orang Aceh lebih sering menyebut dua kecamatan ini dengan nama Lamno.

Pada Desember 2004, Lamno menjadi salah satu kawasan terparah yang kena hantam gelombang tsunami. Butuh waktu dua jam dari Banda Aceh menuju ke daerah ini, melewati beberapa gunung dengan pemandangan hutan hijau, hamparan laut, dan pantai.

Setelah dari Gle Jong, Beritagar.id bergerak ke Lamme, yang masuk dalam Kecamatan Indra Jaya. Lamme berjarak sekitar lima kilometer arah timur dari Gle Jong, dekat dengan Pasar Lamno.

Keuchik (Kepala Desa) Lamme, Umar, mengatakan tidak banyak Si Mata Biru di kampungnya. Dia pun mengantarkan Beritagar.id ke sebuah rumah yang dihuni keluarga Si Mata Biru.

Di sana, kami bertemu dengan Rauzatul Jannah atau biasa dipanggil Rauzah (15) dan ibunya, Ernawati (40).

Ernawati berkulit putih, tetapi tidak bermata biru atau cokelat. Sedangkan Rauzah menunjukkan ciri fisik Eropa: berkulit putih, matanya cokelat, kulit wajahnya berbintik merah, bulu mata dan alisnya pirang.

Namun, rambut siswi Madrasah Aliyah Lamno itu tak kelihatan karena tertutup jilbab. Sedari awal, Keuchik Umar mengingatkan bahwa Rauzah tidak pernah membuka jilbabnya di depan umum.

Hanya beberapa foto Rauzah kecil yang membuktikan dia berambut pirang, persis anak-anak Eropa.

Rauzah adalah sulung dari dua bersaudara. Adiknya Nurul Qamariyah (13) juga memiliki ciri yang sama dengan Rauzah. Siang itu (12/11/2017), Nurul tidak berada di rumah karena sedang di tempat pengajian.

Ernawati mengatakan keluarganya dari awal berkulit putih, meski tidak bermata cokelat dan berambut pirang seperti kedua anaknya.

"Orang tua saya (kakek dan nenek Rauzah) dan juga orang tua suami saya juga berkulit putih. Hanya orang ini (Rauzah dan adiknya) yang berambut pirang," kata Ernawati.

Dia mengaku tidak tahu sejarahnya hingga mereka mirip orang-orang Eropa. "Kata orang, keturunan Portugis tapi pastinya kami tidak tahu," kata Ernawati.

Keuchik Umar mengatakan, banyak orang luar yang datang ke kampungnya demi melihat Rauzah. Beberapa media televisi nasional juga pernah mewawancarai Rauzah.

"Bahkan ada stasiun televisi yang mau bawa dia ke Jakarta, diajak main film. Tapi saya tidak mengizinkan," kata Ernawati.

***

Rauzatul Jannah atau Rauzah di depan rumahnya di Desa Lamme, Lamno, Aceh.
Rauzatul Jannah atau Rauzah di depan rumahnya di Desa Lamme, Lamno, Aceh. Oviyandi / Beritagar.id

Lima kilometer arah barat daya dari Lamme, Irwandi (30) sedang bersantai di atas gubuk kecil. Dia baru selesai memotong rumput di kebunnya di Desa Kuala, Kecamatan Indra Jaya, Lamno, Minggu sore (12/11/2017).

Sehari-hari, Irwandi menjadi guru olahraga untuk sebuah sekolah dasar di Lamno. Dia pakai hari liburnya guna berkebun di lahan yang luasnya sekitar 50 kali 50 meter. Ada seratusan batang pepaya di sana.

Irwandi merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Namun, tiga adiknya meninggal ketika tsunami pada pengujung 2004. Dari lima bersaudara itu, kata Irwandi, hanya Si Bungsu yang tidak menunjukkan jejak fisik keturunan Portugis. "Dia hitam, tidak ada putihnya," katanya.

Irwandi memperlihatkan sejumlah foto bersama abangnya yang diambil semasa kecil. Dalam foto itu, Irwandi dan abangnya terlihat bak anak bule. Rambut mereka pirang dengan wajah putih kemerahan.

Beberapa foto lain menampakkan Irwandi dengan kakeknya yang juga berparas ala Eropa. Ciri fisik serupa juga terlihat dalam foto kedua orang tua Irwandi semasa muda.

Irwandi bilang, banyak peneliti dari luar negeri yang datang ke kampungnya untuk melacak jejak keturunan Portugis. "Mereka pikir di sini ada kampung khusus keturunan Portugis, padahal tidak. Semuanya tersebar," kata dia.

Biasanya, jika ada yang datang ke Desa Kuala, mereka akan menjumpai keluarga Irwandi. "Biasanya Abi (ayah Irwandi) yang mereka jumpai. Sekarang, Abi masih di sawah," ujarnya.

Ayah Irwandi biasa dipanggil Bang Puteh. Panggilan itu sesuai kebiasaan warga Lamno yang suka menyapa mereka yang dipercaya keturunan Portugis dengan "Puteh"--berarti putih atau bule.

Irwandi belum bisa memastikan, apakah Si Mata Biru di Lamno betul keturunan Portugis atau bukan. "Tidak ada tes DNA hingga sekarang," katanya. Dia juga tidak tahu bagaimana sejarahnya hingga banyak orang Lamno mirip bule.

***

Konon, di Lamno pernah ada kuburan orang-orang Portugis. Namun, lokasi itu lenyap jadi lautan setelah tsunami pada 2004.

Sejarah Si Mata Biru di Lamno memang belum terang benar. Beberapa catatan sekadar menjelaskan bahwa Aceh pernah berhubungan dengan Portugis. Bahkan, Aceh pernah menyerang Portugis di Malaka pada abad ke-15.

Rujukan tentang orang-orang yang dianggap keturunan Portugis selama ini sekadar cerita rakyat.

Buku Si Mata Biru yang ditulis Sri Waryanti, dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, mengutip cerita rakyat itu.

Buku termaksud menyebut Gle Jong sebagai kawasan pelabuhan pada abad ke-14, yang telah membangun hubungan dagang dengan luar negeri. Relasi dagang itu memungkinkan adanya pergaulan antara pelaut dan pedagang Portugis dengan warga lokal.

Sedangkan versi lain menyebut orang-orang Portugis di Lamno merupakan tawanan perang ketika Kerajaan Aceh Darusalam menaklukkan Kerajaan Keluang (tetangga Kerajaan Daya).

Versi tersebut diceritakan pewaris Kerajaan Daya, Teuku Saifullah, kepada Beritagar.id, Kamis (9/11/2017). Menurut Saifullah, pada abad ke-14, Keluang sudah membangun hubungan dengan Portugis.

Ketika tentara Aceh di bawah pimpinan Po Teumeureuhom datang, ada pasukan Portugis yang membantu Keluang. Dua kerajaan itu berperang dan berujung kekalahan bagi Keluang. Alhasil, banyak tentara Portugis yang jadi sandera Po Teumreuhom dan tinggal di Lamno.

"Mereka ini dimasukkan Islam, lalu menikah dengan orang setempat dan jadi warga Lamno," kata Saifullah.

Walau belum terang sejarahnya, orang-orang di Lamno tetap yakin bahwa Si Mata Biru adalah keturunan Portugis.

Warga Gle Jong, Muhammad menuturkan bahwa ada kuburan orang-orang Portugis di kawasan Desa Gampong Baro, Kecamatan Jaya. Saat ini, lokasi tersebut sudah tiada lantaran berubah jadi lautan setelah tsunami menghantam pada Desember 2004.

Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, kata Muhammad, pernah berencana membangun monumen di tempat tersebut. "Namun sampai sekarang belum terlaksana," kata Muhammad.

Baca juga artikel tentang turunan Portugis di Sulawesi Tenggara, "Mata biru di Buton, dulu stigma kini istimewa".