Lokadata.ID
Teresa Wibowo: Offline itu enggak mungkin tergantikan
Chief Exceutive Officer (CEO) ruparupa.com Teresa Wibowo saat wawancara dengan Lokadata.id di Gedung Kawan Lama, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat sore (4/6/2021). Aminudin Azis/Lokadata.id

Teresa Wibowo: Offline itu enggak mungkin tergantikan

Ia mengklaim Ruparupa adalah model bisnis yang berbeda dengan marketplace lain. Lebih konservatif dan enggan bakar uang.

Sebagian besar orang mengenal Teresa Wibowo sebagai generasi ketiga penerus Kawan Lama dan CEO ruparupa.com. Tapi banyak yang tidak tahu bahwa ia pernah jualan es krim di California dengan bayaran US$ 8 per jam. “Tiga bulan saya bekerja dengan bos orang India,” ujar perempuan yang masuk dalam daftar Forbes Asia's Power Businesswomen dua tahun lalu ini.

Teresa memiliki jalan yang tidak biasa untuk mendapat kredit itu. Ia dibesarkan Kuncoro Wibowo, Sang Ayah, bukan sebagai “putri kerajaan”, tetapi sebagai pekerja keras. Sejak sekolah dasar ia selalu dibawa ayahnya ke kantor—selesai pulang sekolah. Ia menunggu ayahnya sambil belajar dan baca-baca katalog Krisbow sampai malam tiba.

“Saya selalu dikasih tantangan olehnya sampai saya berada pada titik ini,” tuturnya saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Aminudin Azis di Gedung Kawan Lama, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat sore (4/6/2021).

Kami duduk berhadapan dengannya di sudut yang tenang di salah satu ruangan gedung. Rambut rimbunnya membingkai wajah, tampak cerah dengan jin dan blus rajut meski baru pulih dari tifus yang mengharuskannya dirawat seminggu.

Selama satu jam kami bertukar tanya jawab. Mulai dari prioritas Ruparupa tahun ini hingga memori masa kecilnya terhadap iklan permen bolong rasa plong. Berikut perbincangannya:

Chief Exceutive Officer (CEO) ruparupa.com Teresa Wibowo saat wawancara dengan Lokadata.id di Gedung Kawan Lama, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat sore (4/6/2021).
Chief Exceutive Officer (CEO) ruparupa.com Teresa Wibowo saat wawancara dengan Lokadata.id di Gedung Kawan Lama, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat sore (4/6/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Secara umum, bagaimana dampak satu tahun lebih pandemi Covid-19 terhadap bisnis Kawan Lama Group?
Keseluruhannya, bisnis turun ya. Tapi sudah berangsur pulih. Terlebih, kami punya infrastruktur e-commerce yang menjual berbagai macam kebutuhan.

Hal itu sangat membantu. Terutama pada bulan-bulan Maret dan April tahun lalu.

Karena perubahan pola belanja konsumen pada masa pandemi?
Tentu saja. Penjualan online itu meningkat gila-gilaan. Apalagi ketika ada kebijakan PSBB ketat. Mereka beli semua kebutuhan dengan online. Bahkan tren itu terus berjalan sampai sekarang.

Apakah iklim bisnis saat ini sudah mendekati periode sebelum adanya Covid-19?
Dilihat secara grafis, bisnis kami sih sudah mendekati normal. Mungkin karena bisnis kami enggak turun-turun banget. Karena Kawan Lama kan cukup ragam unit bisnisnya.

Mana sektor yang paling terpukul?
Industri B2B. Tapi sekarang juga mulai bangkit. Pada awal pandemi kan pabrik-pabrik kami susah dapat bahan baku. Sehingga ada masalah di supply chain.

Hal itu menurunkan permintaan di B2B. Apalagi ada beberapa peraturan yang mengharuskan tutup.

Untungnya kita masih ada Ruparupa. Sehingga bisnis tetap bisa berjalan.

Bagaimana mitigasi Ruparupa terhadap pandemi yang berkepanjangan ini?
Ini kan sesuatu yang enggak pernah disangka. Hanya sekali saja kasus begini selama lima tahun ruparupa.com berjalan.

Ya, mitigasi tetap berjalan dan syukurnya kita sudah cukup baik infrastrukturnya.

Banyak pelanggan kita yang terbangun selama lima tahun ini. Sehingga, mereka sudah tahu mencari barang-barang kebutuhannya di mana.

Ketika Kawan Lama melakukan transformasi ke digital, apakah hitungannya termasuk telat?
Saya rasa cukup pas momentum waktunya lima tahun lalu. Apalagi, di perjalanannya, infrastruktur kami langsung diuji dengan adanya pandemi. Dan ternyata malah berjalan baik.

Saya tidak bisa membayangkan kalau kami baru onboarding. Jadi ini adalah hasil kerja keras selama lima tahun dan berbuah cukup besar.

Apa rapor yang Anda lihat. Misalnya barang-barang yang laris dibeli semasa pandemi…
Ini menarik. Dulu ribut-ribut harga masker naik, di Ruparupa harganya normal lho. Hal itu kemudian yang membuat stabil harga masker.

Kemudian yang menonjol adalah pembelian disinfectant foggers, air purifier, dan selanjutnya bergeser ke kebutuhan rumah.

Apalagi dengan penerapan WFH. Orang mendadak beli meja dan kursi, belum lagi sepeda, alat masak dan banyak lagi.

Ketika masyarakat mulai percaya diri beraktivitas secara offline, apakah hal itu memengaruhi bisnis Ruparupa?
Berpengaruh. Tapi enggak sampai turun banget. Perilaku belanja orang kan sudah berubah dan itu berlangsung lama.

Kebiasaan baru ini akan tetap ada karena mereka juga sudah mendapatkan kemudahan, kenyamanan dan kepercayaan terhadap belanja online.

Bagaimana strategi Anda atas perubahan perilaku konsumen itu dan tentang peluang bisnisnya?
Pada akhirnya kita menambahkan variety lebih dalam lagi. Misalnya, kalau dulu mungkin menjual dua macam masker, saat ini kami menjual 10 jenis masker.

Berlaku juga untuk barang-barang yang saya sebutkan tadi.

Intinya product assortment adalah suatu keharusan. Termasuk keharusan omnichannel di bisnis e-commerce.

Ini bicara soal kepuasan pelanggan dan customer experience?
Bagaimanapun experience amat penting. Dengan terintegrasinya seluruh platform yang ditawarkan, mereka akan merasakan pengalaman dari tiap platform yang digunakan.

Integrasi tak hanya terbatas di platform online saja, namun juga offline.

Konsumen Ruparupa ini apakah sama dengan sebelum pandemi atau mereka orang baru?
Banyak yang baru karena pandemi ini. Karena, banyak sekali orang mulai belanja online.

Tapi ya banyak juga our old costumer. Konsumen kami itu sekitar 500 ribu orang.

Apakah angka itu sesuai ekspektasi?
Sesuai. Jadi kita ini memang punya model bisnis yang berbeda ya dari marketplace lain, kayak Tokopedia atau Shopee begitu.

Kami ini lebih konservatif yang akhirnya menghasilkan uang. Bukan burning money.

Chief Exceutive Officer (CEO) ruparupa.com Teresa Wibowo saat wawancara dengan Lokadata.id di Gedung Kawan Lama, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat sore (4/6/2021).
Chief Exceutive Officer (CEO) ruparupa.com Teresa Wibowo saat wawancara dengan Lokadata.id di Gedung Kawan Lama, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat sore (4/6/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Oke. Kawan Lama kan memang kuat di offline pada awal berdirinya, bagaimana cara Anda mentransformasi entitas bisnis ini menjadi digital?
Nah itu. Sangat susah dan panjang ceritanya. Singkatnya kita mengumpulkan orang-orang yang mindset-nya itu e-commerce dan mencari cara bagaimana ritel ini bisa bekerja sama dengan e-commerce. Bukan malah kanibalisasi satu sama lain.

Dalam perjalanan, ketika program kami didukung BOD, ya semua berjalan baik. Pembuktiannya di pandemi ini. Pelanggan bertambah dan kami kebanjiran order.

Digitalisasi di Kawan Lama sudah final?
Belum ya, meski dimulai dari lima tahun lalu. Transformasi ini masih terus terjadi. Kami masih dalam perjalanan dan terus memperbaiki apa yang kurang.

Apa yang menjadi prioritas Ruparupa pada sisa tahun 2021 ini?
Sekarang kita lagi fokusin omnichannel experience. Misalnya STOPS (Store Pick-Up Service), yang memungkinkan pelanggan berbelanja aplikasi Ruparupa kemudian dapat mengambil produk yang dibeli di toko ritel Kawan Lama Group--terdekat dari lokasi mereka.

Prinsipnya adalah memudahkan pelanggan untuk menjangkau 350 jaringan toko offline kami, yang menyediakan lebih dari 67 ribu jenis produk.

Seperti furniture, home living, kitchen, hobi, dan masih banyak lagi.

Bagaimana pendapat Anda tentang ritel-ritel besar yang kesulitan selama pandemi ini?
Saya rasa itu lebih ke persaingan pasar dan strategi perusahaannya. Jadi enggak bisa dibilang juga ritel saat ini mati. Enggak begitu.

Buktinya ritel kita masih ada dan terus berkembang.

Secara ekspansi dan model bisnis, ritel masih berpotensi?
Masih sekali. Offline itu enggak mungkin tergantikan. Karena jalan-jalan keluar itu seperti sebuah kebutuhan juga.

Ada kan yang namanya retail therapy. Sekalipun Anda introvert, tetap saja kita adalah human being dan social person.

"Transformasi digital di Kawan Lama masih terus terjadi dan kami terus memperbaiki apa yang kurang."

Teresa Wibowo

Apakah penobatan Asia’s Power Business Woman itu merupakan pencapaian yang memang Anda kejar?
Enggak sih. Saya saja kaget bisa masuk. Enggak pernah ada dibenak saya. Tapi I am grateful that I got chosen.

Dampaknya terhadap karier Anda?
Enggak ada. Ha-ha. Orang tua saya menyampaikan artikel tentang penghargaan itu kepada saya. Ya sudah. Begitu saja. Habis itu kerja lagi.

Di berbagai media Anda menyatakan suka dengan dunia marketing sejak lama. Kenapa?
Dunia marketing itu menarik ya ketimbang finance. Bahkan, saking sukanya, saya suka tebak-tebakan iklan sama adik. Saya itu hafal iklan-iklan di televisi saat kecil.

Kalau ke rumah nenek, ya saling tebak iklan gitu di dalam mobil. Misalnya iklan permen Polo, permen bolong rasa plong he-he. Kemudian Masako atau Bentoel. Banyak.

Tidak ada permainan lain?
Permainan anak kecil saat itu kan enggak sebanyak anak sekarang. Televisi saja cuma TVRI dan RCTI. Ha-ha.

Apa benar Anda disebut pernah jualan es krim di Amerika?
Iya benar. Saya pernah jual es krim waktu liburan summer school di California. Saya ingat, bos saya orang India, baik sekali.

Saya kerja full time tiga bulan lebih di sana dengan bayaran US$ 8 per jam.

Menariknya apa? Ngobrol sama pengunjungnya. Saya sampai hafal kalau tiap selasa jam 10 itu ada polisi datang membeli es krim.

Pemasukannya untuk Anda lumayan?
Lumayan. Kan dapat tip juga. Apalagi saya demen ngobrol kan. Ha-ha. Tipnya tambah gede.

Sebagai generasi ketiga penerus Kawan Lama apakah ada tuntutan tertentu kepada Anda?
Yang pasti sih mereka selalu dukung saya. Mereka biasanya memacu saya hingga potensi saya keluar dan selalu menantang saya untuk melakukan sesuatu yang lebih.

Siapa mentor Anda?
Enggak ada mentor khusus. Ya untungnya saya ada di perusahaan cukup besar. Sehingga cukup mudah untuk bertukar pikiran dengan para petinggi di Kawan Lama yang saya anggap semuanya adalah mentor.

Apa pencapaian yang belum diraih dari seorang Teresa Wibowo?
Banyak banget ya. Tapi, dalam lima tahun ke depan, fokus saya adalah ekspansi bisnis.