Lokadata.ID

Terjalnya perjalanan gim lokal membawa budaya Indonesia ke panggung internasional

Suasana diskusi dalam gelar wicara virtual bertajuk Proses Pengembangan Gim: Menghasilkan dan Memvalidasi Ide di Festival Retas Budaya pada Sabtu (7/11/2020).
Suasana diskusi dalam gelar wicara virtual bertajuk Proses Pengembangan Gim: Menghasilkan dan Memvalidasi Ide di Festival Retas Budaya pada Sabtu (7/11/2020). Goethe-Institut Indonesien

Saat ini, permainan video alias gim mulai dipandang serius. Tak berbeda dari medium lain, seperti fotografi dan film, gim tak hanya menjadi sarana pengenalan budaya, bahkan bisa juga sebagai sebuah arsip dan warisan kultural untuk masa depan.

Namun, pada dasarnya gim adalah produk komersial yang patokan kesuksesannya dilihat dari jumlah kopi yang berhasil terjual. Pangsa pasar besarnya di luar negeri, bukan di negara ini yang sebagian orangnya masih senang membajak. Bagaimana caranya agar gim lokal bisa berjaya di pasar internasional?

“Kita bisa maju ke panggung internasional dengan membawa sesuatu yang baru,” ujar Adam Ardisasmita dari Asosiasi Game Indonesia dalam konferensi pers virtual pembukaan Festival Retas Budaya yang diadakan pada Jumat (6/11/2020).

Ia memberi contoh dua gim lokal yang sudah/akan go international, yaitu Dread Out dan Tirta. Dread Out bergenre penyintas (survival) dan horor, dengan karakter utama anak berseragam SMA melawan musuh berupa hantu-hantu lokal seperti pocong dan kuntilanak.

Sementara Tirta merupakan game yang mengangkat budaya Indonesia, khususnya Bali dan direncanakan akan dirilis pada 2022 untuk konsol Sony Playstation 5.

Tentu membawa sesuatu yang baru saja bisa dibilang belum cukup. Ini dibahas Adam bersama dua developer game asal Indonesia yaitu Fandry Indrayadi dari Agate International dan Kris Antoni dari Toge Production dalam gelar wicara virtual bertajuk Proses Pengembangan Gim: Menghasilkan dan Memvalidasi Ide pada Sabtu (7/11/2020).

“Kami nggak berharap budaya Indonesia ditangkap orang luar,” ujar Fandry, yang turut serta mengembangkan gim Tirta bersama timnya di Agate International. Ia melanjutkan, “Mungkin orang Indonesia akan menganggap ini Indonesia banget, tapi di pasar global, yang kami jual tuh supranatural power-nya.”

Adam, Kris, dan Fandry sepakat bahwa akan tanggung jika gim buatan pengembang lokal cuma menyasar pangsa pasar lokal juga. Lebih baik terjun sekalian ke pasar internasional seperti Steam atau Playstation Store.

Mereka menyadari, pangsa pasar internasional tak akan serta-merta membeli gim yang cuma bermodalkan budaya Indonesia. Harus ada sesuatu yang relate bagi orang di luar negeri, agar mereka melirik game berbau Indonesia.

Bersama timnya di Toge Production, Kris Antoni telah merilis A Space for The Unbound, sebuah game dengan set tahun 90-an di daerah pedesaan Indonesia. Kisahnya merupakan secuplik kehidupan yang sederhana, mengenai hubungan dua remaja. Namun, ada bumbu supernatural di dalamnya. Itulah yang diharapkan bisa menarik pasar internasional.

“Kami enggak jual Indonesia-nya, tapi, bagaimana orang luar bisa merasa relate. Mereka akan berpikir, ‘Oke, ini familiar untuk gue, tapi gue belum tahu 100 persen’, dan itu bisa bikin mereka penasaran. Dari situ orang bisa mulai belajar culture Indonesia,” jelas Kris.

Kris memberi contoh film The Raid yang tak hanya menjual seni beladiri silat, tapi juga aksi yang menegangkan. Silat bakal relevan untuk penonton Indonesia, sementara aksi yang menegangkan adalah pintu bagi film tersebut untuk dipasarkan di luar negeri.

Kasus ini beda dengan developer gim Jepang. Budaya Jepang seperti samurai sudah terkenal di dunia sejak sineas Akira Kurosawa membuat film Seven Samurai pada 1954. Makanya, mudah saja bagi pihak pengembang gim asal Jepang untuk merilis gim samurai yang sangat khas Jepang seperti Ghost of Tsushima, dan tetap laku di pasar internasional.

“Jepang sudah lebih lama investment-nya. Orang kenal samurai dari film zaman hitam putih. Kita nggak punya itu. Perjalanan kita masih panjang. Pelan-pelan dibangun, disisipkan,” tutup Kris.

Gim lokal bisa manfaatkan data kultural terbuka

Diskusi di atas adalah bagian dari Festival Retas Budaya, yang digelar secara daring melalui Zoom dan kanal YouTube Goethe-Institut Indonesien pada tanggal 6-8 November 2020, berisi berbagai seminar, lokakarya, dan talkshow yang mengeksplorasi potensi data kultural terbuka dalam 4 jalur, salah satunya lomba Games for Data.

Salah satu gim lokal yang ikut kompetisi dalam Festival Retas Budaya adalah Oeang Soeltan, sebuah gim arcade hasil ciptaan 5 mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Padarotan.

Tangkapan layar dari gim Oeang Soeltan ciptaan developer Padarotan
Tangkapan layar dari gim Oeang Soeltan ciptaan developer Padarotan Goethe-Institut Indonesian

Gim yang dibuat selama 3 hari 2 malam ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai sejarah mata uang dengan cara yang menyenangkan. Data-data mata uang diambil dari data kultural terbuka di Museum Uang Sumatera.

Selain Games for Data, ada tiga jalur lomba lain yaitu Stories from Data, Open Design Remix, dan Citizen Science and Open Data.

Dalam Festival Retas Budaya 2020, ada lebih dari 2.500 artefak kultural yang dibuka untuk masyarakat umum oleh 11 mitra institusi GLAM (kumpulan institusi yang terdiri dari galeri, perpustakaan, lembaga pengarsipan, dan museum).