Lokadata.ID

Tingkat kesejahteraan petani tergerus

Nilai tukar petani 2019-Juli 2021.
Nilai tukar petani 2019-Juli 2021. Bebet / LOKADATA.ID

Nilai tukar petani sebagai indikator tingkat kesejahteraan pada Juli lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan petani di 23 provinsi memiliki nilai tukar di bawah rata-rata nasional.

Menurut data bulanan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai tukar petani pada Juli 2021 ada di posisi 103,5, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Penyusutan tingkat kesejahteraan tersebut terutama diakibatkan oleh kenaikan indeks harga yang harus dibayar lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks yang diterima.

Indeks harga yang dibayar petani merupakan biaya input produksi seperti pupuk, transportasi, dan lainnya ditambah dengan biaya konsumsi rumah tangga. Sedangkan indeks harga yang diterima berasal dari hasil penjualan produk. Walaupun ada kenaikan, angkanya lebih kecil dari ongkos produksi dan biaya hidup.

Dengan demikian, pengeluaran petani lebih tinggi ketimbang pendapatannya. Akibatnya, tingkat kesejahteraannya tergerus.

Jika dilihat data pada periode Januari 2019 hingga Juli 2021, rata-rata nilai tukar petani per bulan ada di posisi 102,4. Dengan acuan itu, dari sisi wilayah, kesejahteraan petani yang berdomisili di 23 provinsi pada Juli tahun ini berada di bawah rata-rata petani nasional.

Bahkan 12 provinsi di antaranya memiliki indeks nilai tukar di bawah 100. Hal ini berarti pendapatannya dari penjualan hasil pertanian tak mampu menutupi ongkos produksi dan konsumsi rumah tangga.

Dengan demikian, petani di 12 provinsi tersebut pada Juli, hanya memiliki tiga opsi untuk menutupi selisih tersebut: berutang, menarik tabungan atau menjual simpanan, dan menurunkan belanja input produksi atau mengurangi konsumsi rumah tangga.

Petani dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, antara lain ada di Bali dan Sulawesi Tengah. Sebaliknya, petani paling sejahtera ada di Provinsi Riau dan Bengkulu. Kenaikan harga minyak sawit mentah menjadi salah satu penopang tingginya nilai tukar petani di kawasan ini.

Dinamika harga yang diterima petani dari hasil penjualan produk pertanian merupakan persoalan klasik. Tak pernah ada solusi, terutama ketika datang musim turun harga seperti saat panen tiba, sementara kebutuhan justru meningkat.