Lokadata.ID
Tongkat wasiat dan iming-iming berangkat haji orang Korea
Tongkat wasiat Sumenep. Fully Syafi/Beritagar.id

Tongkat wasiat dan iming-iming berangkat haji orang Korea

Ramuan Madura khusus perempuan dipercaya bisa membuat betah pasangan. Tapi belum teruji secara ilmiah.

Rumah bercat oranye yang terletak di Jalan Kemala Nomor 141, Kampung Kolor, Kota Sumenep sangat mencolok di antara deretan rumah lain.

Sebuah mobil dan dua sepeda motor terparkir di terasnya. Sebuah pelang berlampu (neonbox) terpampang di pojok pagar. Tulisannya "Toko Ummi Kalsum 2."

Toko itu sudah tersohor hingga di luar daerah Sumenep. Toko Ummi yang sudah berdiri sejak 1963 itu dikenal sebagai penjual tongkat wasiat dan jamu kebugaraan lainnya.

Tongkat wasiat sudah amat termasyhur. Ia diklaim sebagai jamu yang bisa merapatkan vagina.

Kamis (29/12/2017) malam, ketika kami bertandang ke toko Ummi ada dua perempuan yang baru selesai minum jamu. Kata salah satunya, mereka pelanggan yang rutin datang ke sana.

Di atas meja toko, ada dua daftar menu. Di menu yang dilengkapi harga itu tertera 30 jenis jamu khusus pria dan wanita produksi Ummi Kalsum 2. "Rumah ini sekaligus jadi toko. Pembuatan jamu di belakang," kata Tusmiyati (52) memulai pembicaraan.

Tusmiyati adalah generasi ketiga yang menjalankan usaha jamu keluarganya. Perintisnya sang nenek, Nyai Jumaida. "Dulu nenek karyawannya banyak, karena bahan harus ditumbuk dan dibungkus daun pisang," ujarnya.

Setelah Jumaida meninggal, usaha jamu diteruskan Ummi Kalsum, ibu Tusmiyati. Saat dipegang Ummi, usaha jamu berkembang pesat dan mulai mengenal kemasan.

Setelah Ummi meninggal pada 2005, usaha diteruskan Tusmiyati. Untuk mengenang jasa ibunya, Tusmiyati menjadikan nama Ummi Kalsum sebagai nama tokonya itu. "Banyak yang mengira Ummi Kalsum itu namanya saya, padahal nama ibu," ujar dia.

Di tokonya, yang menjadi andalan adalah tongkat wasiat. Ini jamu khusus perempuan. Jamu padat dan berwarna coklat tua, berbentuk lonjong dengan panjang 10 cm. Bukan untuk diminum, melainkan dimasukkan ke vagina selama 30 menit sebelum melakukan hubungan intim.

Konon setelah menggunakan tongkat wasiat ini, organ kewanitaan jadi kesat karena lendir terserap. Khasiat lain, konon ramuan ini bisa mengencangkan otot-otot di sekitar organ kewanitaan yang sudah tidak berfungsi.

Angga Dwi Riyani (30), warga Kecamatan Burneh, Bangkalan, mengaku pernah mencoba tongkat ini. Ia bercerita, tongkat ini bisa digunakan berkali-kali. Makin sering dipakai bentuknya mengecil karena bahan dari serbuk yang dipadatkan ini lengket di mulut vagina.

"Karena ada sisa bahan itu, makanya terasa kesat, sehingga disebut kembali perawan," kata dia tersipu.

Agar awet, kata Angga, setelah dipakai tongkat direndam dalam air sebentar kemudian diangin-anginkan agar kering lantas disimpan kembali dalam kotak.

Aziz, pegawai negeri sipil di Bangkalan mengaku pernah meminta istrinya mencoba tongkat ini. Hasilnya? "Memang lebih rapet, saya kesakitan," katanya tertawa.

Menurut Tusmiyati, saat dirintis neneknya, ramuan tongkat berupa serbuk yang dikemas dalam bungkus daun pisang. Penggunaannya ditaburkan ke permukaan organ intim kewanitaan.

Bentuk tongkat baru dibuat ketika usaha ini dipegang ibunya. "Saya tidak ingat tahunnya. Seingat saya sejak saya masih kecil saya sudah sering bantu ibu membuat tongkat," katanya.

Dalam sebulan, ia mengaku bisa memproduksi sekitar 400 buah. Pelanggannya, kata dia, kebanyakan orang luar daerah dan luar negeri. Harganya dibanderol Rp30 ribu.

Tusmiyati mengklaim produknya alami, tidak menggunakan pengawet maupun pewarna. Warna cokelat yang ada juga bukan dari bahan campuran.


Tongkat wasiat produksi Sumenep.
Tongkat wasiat produksi Sumenep. Fully Syafi / Beritagar.id

Apa saja bahannya? Di sini Tusmiyati mulai terlihat galak. Ia tak menjawab tapi malah bercerita tentang ahli farmasi dari Korea yang pernah datang dan mau belajar membuat tongkat wasiat kepada almarhum ibunya.

Kepada ibunya, orang Korea ini akan memberangkatkan haji jika ibunya bersedia membocorkan bahan dan mengajari membuat tongkat. Tapi sang ibu menolak.

"Lha orang Korea saja mau menaikkan haji kami ditolak, apalagi sampeyan yang enggak mungkin menaikkan haji saya," ujarnya dengan nada tinggi. "Ibu berwasiat agar ramuan tongkat tetap dirahasiakan."

Keengganan membeberkan bahan yang dipakai diduga karena Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memasukkan merek ini ke dalam daftar produk ilegal. Tusmiyati tak menampik dugaan itu. Dia mengaku memang sangat berhati-hati bila membahas ramuan tongkat karena Undang-undang Kesehatan di Indonesia melarang semua jenis jamu luar.

Karena belum berizin ini juga tiap kali ada petugas pemerintah atau aparat Tusmiyati selalu was-was. Ia punya cerita. "Pernah ada banyak polisi ke sini, saya deg-degan, takut ada razia atau apa, ternyata mau minum jamu," katanya.

Tusmiyati mengaku pernah mengurus izin. Tapi karena ribet dan banyak persyaratan ia mengaku lelah. Akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan.

Persyaratan itu misalnya adanya kewajiban mempekerjakan satu apoteker dan semua produk harus punya nomor seri. Tiap nomor seri ada biayanya. "Harga jamu berapa sih, mbok ya kami ini dirangkul, kami ini hanya home industry," ujarnya.

Tusmiyati memang bukan satu-satunya yang memproduksi ramuan jenis ini. Namun rata-rata sikap mereka sama seperti Tusmiyati, tidak terbuka saat diminta cerita bahan-bahan yang digunakan.

***

Ramuan khusus untuk wanita ini memang punya beberapa nama. Nur Hasanah (46), warga Ganding, Sumenep, yang pernah berdagang tongkat pada 2004 hingga 2011, menyebut di Madura ada dua tempat produksi tongkat ini, Sumenep dan Bangkalan.

Merek yang biasanya beredar di pasaran ada dua, tongkat wasiat dan tongkat Madura. Warnanya pun berbeda. Tongkat Madura biasanya berwarna putih susu dan juga ada warna-warni lainnya.

Saat masih berjualan, Nur mengaku, pelanggannya kebanyakan dari Kota Balikpapan dan Samarinda, Kalimantan Timur.

Menurut dia, banyak perempuan menyukai tongkat Madura atau tongkat wasiat karena jamu luar dianggap lebih praktis ketimbang minum jamu. "Saya kalau lagi malas minum jamu, ya pakai tongkat, praktis dan mudah," kata dia.

Nur mengaku pernah mencoba tongkat produksi Sumenep dan Bangkalan. Namun dirinya mengaku lebih menyukai buatan Sumenep. "Saya pernah pakai yang produksi Bangkalan, langsung iritasi, kayak tergores dan perih," ujarnya.

Keluhan Nur ini sejalan dengan hasil penelitian BPOM. Menurut bekas pejabat BPOM yang pernah bertugas di Surabaya, lembaganya pernah meneliti kandungan zat yang ada dalam tongkat wasiat dan Madura, khususnya yang produksi Bangkalan.

Hasilnya mengejutkan. Salah satu bahan yang digunakan ternyata mengandung tawas. Karena itu kemudian BPOM menyatakan ramuan ini masuk dalam daftar ilegal.

Kami mencoba mengonfirmasi ke Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan, Muzakki. Namun, hingga berita ini ditulis, ia tak merespons. Yang jelas, menurut Kepala Dinas Perindustrian Sumenep, Siti Aminah, sampai saat ini semua industri rumahan jamu ini belum pernah mengajukan izin untuk kemasannya.

***

Menurut cerita Nur Hasanah yang pernah didengar, ramuan ini awalnya digunakan istri para raja-raja Madura. Cerita itu juga yang kerap dicantumkan dalam kemasan-kemasan ramuan itu.

Penggunaan awal yang elitis ini bisa jadi membuat ramuan ini dulu tak begitu familier bagi penduduk pulau garam. Rusmini (65), warga Klampis, Bangkalan, misalnya. Ia mengaku selama hidupnya baru kali ini tahu ada jamu berbentuk tongkat yang dikhususkan bagi kaum hawa.

Setahu dia, di kalangan keluarga Madura, leluhur-leluhurnya hanya mengajarkan agar kaum perempuan selalu membersihkan 'organ kewanitaan' dengan daun sirih. Daun sirihnya pun tidak boleh sembarangan.

Sirih yang bagus untuk membersihkan itu, kata dia, disebut sirih temmo ora' (bertemunya urat). Maksudnya, untuk keperluan kekesatan, kaum perempuan harus mencari daun sirih yang urat pada lembar daunnya timbul baik bagian dalam atau luar permukaan daun.

Jumlah daun sirih pun harus ganjil tak boleh genap. Setelah itu daun direbus, air rebusannya diminum dan daun bekas rebusan itu yang digunakan untuk membersihkan vagina. "Tapi sekarang, cara ini sudah ditinggalkan, kalau wanita zaman dulu pasti diajarkan ramuan ini," kata dia.

Selain ramuan keperluan pribadi, perempuan Madura juga diajarkan membuat jamu untuk kaum pria. Bahannya sangat simpel. "Sahang 21 butir dicampur dengan kuning telur, itu aja," ujarnya.