Lokadata.ID
Tuah viagra Dusun Sikunang
Purwaceng yang dicabut dari perkebunan milik Mubasir di kawasan Dusun Sikunang, Dieng, Jawa Tengah, Jumat (5/1/2018). Bismo Agung Sukarno/Beritagar.id

Tuah viagra Dusun Sikunang

Dianggap sebagai tanaman peningkat libido, purwaceng memiliki banyak guna. Orang Dieng memanen dan meramunya secara berkelanjutan.

Tergeletak di meja, kecil, berjari-jari hijau dan kekuningan. Usianya delapan bulan. Orang Dieng menganggap makhluk ajaib ini sebagai warisan. "Namanya purwaceng," kata Mubasir.

Pria berusia 65 ini cukup masyhur di Dieng. Hampir semua orang mengenalnya. Dia merupakan keturunan Tuhyeni, si penemu purwaceng yang pertama. "Tuhyeni itu kakek saya," tutur Mubasir, sembari memperlihatkan purwaceng yang di meja tadi kepada Beritagar.id di rumahnya, Dusun Sikunang, Dieng, Jawa Tengah, Jumat sore (5/1/2018).

Menurut dia, bentuk dan khasiat Purwaceng identik dengan saudaranya di Asia, yaitu ginseng. Ginseng telah digunakan dari zaman jebot sebagai tonik kesehatan yang populer. "Sebenarnya sama halnya dengan purwaceng," ujar Mubasir. Namun, tanaman berbahasa latin Pimpinella pruatjan ini tidaklah sepopuler ginseng.

Mungkin, bentuknya yang tak jauh beda dengan rumput liar membuat purwaceng tak begitu diperhatikan di alam, sehingga terpinggirkan. Beda dengan ginseng, yang bentuknya lebih keren, karena akarnya menyerupai tubuh manusia. Demikian kata Mubasir.

Meski begitu, banyak orang memburu purwaceng. Utamanya untuk kesehatan dan keperkasaan. Termasuk kami ini. Kami melacak jalur purwaceng mulai di hutan, bukit, sampai menggali ceritanya dari pelosok-pelosok terpencil di Dieng. Keluarga Mubasir jadi sumber utama kami.

Keluarga ini memang mengkhususkan hidupnya pada purwaceng. Mereka punya beberapa perkebunan di lereng Dieng dan mengolah purwaceng jadi campuran teh atau susu.

Mubasir sudah mengenal tanaman ini sejak 1970 dan mewarisi keahlian kakeknya Tuhyeni dalam menanam serta mengolah purwaceng.

“Purwaceng bisa menjadi kunci kehidupan seks yang panjang dan aktif”

Mubasir

Ia bercerita kepada kami bagaimana kakeknya itu menemukan purwaceng tanpa sengaja. Ceritanya, saat akan menggarap lahan pertanian, Tuhyeni merasakan sakit di perut. Saat kesakitan itu, tangannya spontan memetik daun tanaman rambat. Daun itu kemudian dikunyah.

Setelah mengunyah daun itu, sakit perutnya hilang. Tubuhnya terasa hangat dan tenaganya kembali lagi. Kisah tentang purwaceng yang berkhasiat itu pun menyebar. Selanjutnya, beberapa petani di Dieng memiliki metode tradisional untuk menggunakan purwaceng: sepotong akarnya disimpan di saku untuk jaga-jaga kalau sakit saat bertani.

"Sepotong akar itu dikunyah untuk energi," kata Uswatun Khasanah, menantu dari Mubasir--pada kesempatan sama.

Sampai hari ini, ujar Uswatun, purwaceng dipercaya sebagai minuman berkhasiat. Ramuannya masih diberikan kepada pengantin baru untuk memastikan kesuburan dan kelahiran anak-anak yang sehat di Dieng. Selama bertahun-tahun kelestarian ramuan purwaceng ini dijaga ketat beberapa warga Dieng.

Resep ramuannya tidak rumit. Hanya air rebusan purwaceng yang dicampur bahan minuman lain, seperti kopi dan teh. Berbeda dengan ginseng yang hanya diambil bagian akarnya, purwaceng bisa dimanfaatkan seluruh bagiannya. "Tanaman ini serba guna manfaatnya," ujar anak keempat Mubasir, Biyaudin, 30.

Sosok Mubasir, keturunan penemu purwaceng yang pertama, ketika ditemui Beritagar.id di kawasan Dusun Sikunang, Dieng, Jawa Tengah, Jumat (5/1/2018).
Sosok Mubasir, keturunan penemu purwaceng yang pertama, ketika ditemui Beritagar.id di kawasan Dusun Sikunang, Dieng, Jawa Tengah, Jumat (5/1/2018). Bismo Agung

Mubasir menceritakan segala hal tentang purwaceng dengan mata berbinar-binar di perkebunannya, daerah Dusun Sikunang. Dia membungkuk rendah dan mencabut purwaceng untuk kami dari tanah. "Ini yang hampir panen," kata dia menunjukkan tanaman hijau setinggi 15 sentimeter.

Tetapi, purwaceng adalah tanaman pemalu. Tak seperti penghuni perkebunan terkenal lain layaknya kentang atau cabai yang mudah dikenali. Ia tampak samar dengan tanaman lain. Lebih mirip tanaman rambat biasa atau rumput liar ketika kami melihatnya, kemudian berlagak mencobanya.

Ya, rasanya seperti cengkeh atau jahe. Agak aromatik dan pedas saat kami mengunyah sepotong akarnya. Bagi yang tak biasa, mungkin butuh beberapa teguk air putih untuk meredakan rasa pedasnya.

Lalu, Mubasir membungkuk lagi untuk mencabut purwaceng yang lain. Kali ini ia agak berlutut dan berbisik di depan kami. "Purwaceng juga bisa bikin ngaceng lebih lama," katanya sembari tersenyum.

Di Dieng, pesona purwaceng memang identik untuk melipatgandakan kejantanan. Dalam bahasa Uswatun, purwaceng merupakan viagranya Dusun Sikunang.

Kami bertanya kepada beberapa warga yang berpipi kemerahan dan dibungkus sweter wol di Dieng. Jawaban mereka seragam soal purwaceng: untuk menambah stamina dan gairah. Itu jawaban mayoritasnya.

Salah satu yang kami tanya adalah Trubus Suritno, 45, seorang petani di Dieng. Trubus selalu minum purwaceng saban hari usai beraktivitas di ladang. Dia mengakui kebiasaan itu menurun sebagai tradisi keluarga. "Buyut saya minum purwaceng juga," kata bapak beranak tiga dan bercucu satu ini.

Selama 21 tahun pernikahannya dengan Ruqiah, 37, Trubus telah menggunakan purwaceng untuk menambah gairahnya. Ia percaya, stimulan yang ada di tanaman itu meningkatkan kinerja dan memperlama ereksinya. "Bapak (Trubus) tidak pernah ejakulasi dini," kata Ruqiah.

Sebagai istri, ia selalu menyiapkan ramuan purwaceng untuk Trubus. Paling tidak ia menyimpan 15 batang purwaceng sebagai stok untuk seminggu--dari ladangnya sendiri. "Biar sekuat Arjuna," ujar Ruqiah, lantas tertawa.

Mitos keberadaan Arjuna di Dieng memang tersebar luas. Anggota keluarga pandawa yang paling flamboyan ini dipercaya selalu minum purwaceng untuk melayani para bidadari dan selirnya. Tetapi kisah mitosnya cuma berhenti di situ saja. Warga Dieng tak banyak tahu soal mitos tersebut meski Candi Arjuna tegak di sana.

Dari keterangan Mubasir, penyebutan purwaceng juga baru dikenal pada 1981. Sebelumnya, Tuhyeni dan masyarakat Dieng menyebut tanaman itu cuma rumput liar berkhasiat saja.

Cerita terbentuknya nama purwaceng itu bermula ketika ada beberapa pegawai PT Pertamina yang sedang tugas di Dieng meminta ramuan kesehatan ke Tuhyeni pada tahun itu. Mereka mengeluh pusing dan sering pegal-pegal.

Alhasil, para pegawai PT Pertamina itu terkejut usai minum ramuan Tuhyeni. Pasalnya, selain bisa memulihkan kesehatan, ramuan itu juga merangsang libido mereka. Kemudian, secara spontan mereka menamakan tanaman itu purwaceng, yang merupakan gabungan dua kata. Purwa artinya awal atau mula-mula dan ngaceng berarti ereksi.

Yang terjadi setelah penamaan itu adalah gelombang penerimaan tanaman ini di mana-mana. Purwaceng muncul di rak-rak toko oleh-oleh di sekitar Dieng dalam berbagai olahan. Bahkan minumannya sudah mulai masuk ke kafe-kafe modern--dengan ragam inovasi.

Saroji, 53, pengusaha purwaceng dari Desa Dieng Kulon, mengatakan, popularitas purwaceng memang semakin luas pada era 90-an. Dari tahun ke tahun, permintaan terhadap tanaman itu juga terus meningkat. Sekarang, ia bisa memperoleh 700-an paket permintaan dari Jakarta, Kalimantan, Surabaya bahkan mancanegara per bulannya. "Minuman ini gak kalah dengan ginseng," katanya. Saroji menjual produk olahan purwaceng mulai harga Rp20 ribu hingga Rp150 ribu di tokonya.

Purwaceng di perkebunan milik Mubasir di kawasan Dusun Sikunang, Dieng, Jawa Tengah, Sabtu (6/1/2018).
Purwaceng di perkebunan milik Mubasir di kawasan Dusun Sikunang, Dieng, Jawa Tengah, Sabtu (6/1/2018). Bismo Agung

Sebenarnya tak mudah menanam purwaceng. Ia tergolong ribet memilih tempat tumbuh. Bahkan tak semua tempat di Dieng, yang notabene daerah asalnya, bisa membuat purwaceng nyaman untuk berkembang. "Purwaceng menginginkan tanahnya itu agak basah dan mengandung pasir," kata Saroji.

Menurut Uswatun, purwaceng tak membuat tanah jenuh karena jarak masa panennya panjang. Beda dengan kentang yang panen tiga bulan sekali. Ditambah, produktivitas kentang digenjot dengan pemakaian pupuk kimia dan pestisida. "Kentang lebih merusak lingkungan," katanya.

Kini, petani Dieng mulai berani meninggalkan ketergantungan pada budi daya kentang. Mereka beralih ke purwaceng yang harga jualnya cukup menggiurkan.

Di sana, satu kilogram purwaceng dihargai Rp75 ribu. Sekali panen, bisa ada yang mencapai empat kuintal--seperti yang didapat Trubus. Jika dihitung-hitung, Trubus mendapat Rp30 juta sekali panen. "Saya senang menunggu panen. Seperti punya uang di bank," kata Trubus.

Musim panen adalah saat yang sibuk bagi keluarga petani purwaceng. Biasanya usia panen purwaceng itu satu tahun. Tanaman dicabut lalu dibersihkan dari tanah-tanah yang menempel, kemudian dikeringkan di oven untuk dihaluskan dan dikemas sesuai jenis produk yang diinginkan.

Saroji, salah satu petani dan pengusaha purwaceng di Dieng, Jawa Tengah, Sabtu (6/1/2018).
Saroji, salah satu petani dan pengusaha purwaceng di Dieng, Jawa Tengah, Sabtu (6/1/2018). Bismo Agung

Di Dieng, hanya beberapa desa saja yang penduduknya membudidayakan purwaceng. Desa-desa itu adalah Desa Patok Benteng, Desa Sikunang dan Desa Dieng Kulon. Usaha budi daya di luar Dieng pernah dilakukan. Hanya saja, hasilnya tak sesuai harapan.

Melalui pelbagai penelitian, tanaman ini memang memiliki ragam manfaat. Seperti menghangatkan tubuh, melancarkan buang air kecil, menurunkan panas, serta mencegah kanker.

Penelitian juga menunjukkan kalau purwaceng merupakan tanaman afrodisiak atau tanaman yang mampu meningkatkan libido. Seorang dokter spesialis andrologi dari Universitas Diponegoro, Taufiq R. Nasihun membuktikannya pada 2010. Ia memakai tikus putih sebagai hewan uji.

Hasilnya, purwaceng diketahui memengaruhi peningkatan hormon testosteron dan luteinizing pada tikus. Luteinizing adalah hormon otak yang mengatur fungsi sistem reproduksi pria dan wanita.

Dahulu, kebun purwaceng yang dipelihara Mubasir di belakang rumahnya dianggap tak penting. Kini, rumput yang dianggap biasa saja itu malah jadi berharga. Dia naik kasta dengan menjadi salah satu ikon Dieng, bahkan dikenal sebagai tanaman afrodisiak.

Mubasir mengaku kurang paham istilah afrodisiak tersebut. Yang ia tahu purwaceng bisa jadi kunci kehidupan seks yang panjang dan aktif. Ia menceritakan rahasia-rahasia seksualnya di dapur rumahnya, di depan tungku perapian, kepada kami. Kami pun menyimak, sambil sesekali menyeruput kopi panas buatannya. Ajib!