Lokadata.ID

Turis Indonesia tak terlalu takut korona, tapi tetap waspada

Pantai Ancol, Jumat (6/3/2020).
Pantai Ancol, Jumat (6/3/2020). Aulia Putri Pandamsari / Lokadata.ID

Masuknya SARS-Cov-2 ke Indonesia tampaknya tak menyurutkan minat masyarakat untuk tetap melancong.

Hal ini terbukti dari hasil survei Jakpat, aplikasi ponsel pengumpul jajak pendapat. Hasil survei itu mengatakan bahwa wisatawan domestik yang telah membeli tiket perjalanan, tetap akan berangkat.

Data tersebut mencatat, sebanyak 77 persen wisawatan yang terlanjur membeli tiket transportasi dalam negeri memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan.

Sedangkan wisatawan yang membeli tiket ke luar negeri dan tetap melanjutkan rencana perjalanannya ada sebanyak 63 persen. Negara-negara di Asia Tenggara paling diminati sebanyak 49 persen.

Sebanyak 88 persen dari 1.097 responden tersebut menyadari bahwa Covid-19 berbahaya dan menular.

Hal ini juga dilakoni oleh vlogger travel & kecantikan Agnes Oryza. Perempuan yang tampil unik dengan rambut keritingnya ini tetap melanjutkan rencana perjalanannya ke Eropa dalam dua minggu ke depan, meski terbersit kekhawatiran akan korona.

“Jadi saya ada trip ke Eropa, yang pertama ke Italia, Perancis, dan Belanda. Cuma ke Italianya saya batalin,” ujarnya ketika dihubungi Lokadata.id, Jumat (6/3/2020).

Dibatalkannya rencana ke Italia karena adanya peringatan, sebab Italia termasuk salah satu negara zona merah penyebaran korona. Hingga Rabu (4/3/2020), Italia mencatat 3.089 orang terinfeksi dengan jumlah kematian 107 kasus.

Tak hanya wisata mancanegara, dalam waktu dekat Agnes juga berencana untuk menjelajah Tanah Air. Tujuannya yakni Labuan Bajo dan Belitung.

Antusiasme untuk berwisata juga masih dirasakan oleh Nurul (32) warga Tanjung Priok, Jakarta Utara yang datang bersama suami dan dua anaknya untuk berenang di Pantai Ancol pada Jumat (5/03/2020) siang.

Meluasnya wabah virus korona dan pengumuman Presiden Joko "Jokowi" Widodo yang mengonfirmasi adanya Warga Negara Indonesia (WNI) positif terinfeksi Covid-19 tak menyurutkan niat Nurul untuk mengantar anak-anaknya bermain air di pantai. Apalagi menurutnya, belum ada larangan dari pemerintah untuk mengunjungi tempat-tempat wisata.

“Susah sih kalau sudah punya anak kecil. Kebetulan saya sedang libur dan suami juga cuti, kalau libur begini anak-anak inginnya main. Kita sih waspada saja, tidak dekat-dekat dengan orang kalau misalnya dia terlihat sedang batuk, bersin mending ngga usah dekat-dekat. Anak-anak juga berenang jangan jauh-jauh dari kita,” ujarnya.

Siang itu, selain Nurul ada belasan orang lain yang tampak berenang di pantai tersebut. Jumlah pengunjung di sana pun relatif wajar untuk ukuran hari kerja; tak terlampau sepi, pun tidak menyemut.

Pengunjung tempat wisata tak terpengaruh

Hal ini juga diamini oleh Corporate Communications PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. Rika Lestari. "Untuk pengunjung Januari - Februari relatif normal," ucapnya kepada Lokadata.id, Jumat (6/3/2020).

Tak ada penurunan angka yang signifikan tak membuat pihak manajemen Ancol lantas bersantai ria. Beberapa fasilitas sebagai langkah penyebaran virus korona tetap tersedia.

Contohnya, ada empat tempat cuci tangan yang terletak di jalan masuk menuju pantai yang disertai dengan poster terkait langkah-langkah membersihkan tangan, poster mengajak untuk Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), dan informasi mengenai Covid-19. Meski tempat cuci tangan tidak dilengkapi dengan sabun maupun hand sanitizer.

Tempat cuci tangan yang disediakan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., Jumat (6/3/2020).
Tempat cuci tangan yang disediakan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., Jumat (6/3/2020). Aulia Putri Pandamsari / Lokadata.id

Pihak manajemen juga telah siaga dengan menempatkan Pos P3K di setiap unit rekreasi. Mereka juga melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta serta RSPI Sulianti Saroso jika terdapat indikasi karyawan atau pengunjung yang terdampak Covid-19.

Tak hanya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga lakukan hal serupa. Kepala Bagian Humas TMII, Sahda Silalahi mengatakan pihaknya sudah memberikan penyuluhan mengenai pencegahan persebaran virus korona kepada pekerja di lingkungan TMII pada 3 Maret 2020.

Sosialisasi tersebut diberikan oleh pihak Puskesmas Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur kepada Unit BPP TMII, Anjungan Daerah, Unit Museum, Unit Usaha (para pedagang, wahana), Unit Kerja yang ada di lingkungan TMII.

"Di penyuluhan tersebut sudah disampaikan cara-cara membentengi diri dari virus korona. Selain itu kami menyediakan hand sanitizer di beberapa tempat termasuk juga di poliklinik," kata Sahda.

Mengenai jumlah pengunjung, Sahda mengatakan ada penurunan jumlah pengunjung pada periode Januari-Februari 2020 dibandingkan Januari-Februari 2019.

Data pengunjung TMII pada Januari 2020 sebanyak 327.540 orang sementara jumlah pengunjung pada Januari 2019 sebanyak 564.870 orang.

Pada Februari 2020, jumlah pengunjung sebanyak 380.870 orang sementara jumlah pengunjung pada Februari 2019 sebanyak 495.337 orang.

Namun, Sahda tidak bisa memastikan apakah jumlah penurunan di periode Januari-Februari tahun ini disebabkan oleh meluasnya wabah virus korona.

Sebab menurutnya, banyaknya pengunjung pada bulan-bulan seperti ini memang cenderung menurun, karena bertepatan dengan jadwal ujian anak sekolah. Selain itu, cuaca yang tak menentu dan banjir yang sempat melanda Jakarta juga turut mempengaruhi.

Penurunan jumlah pengunjung juga dirasakan di Alor, Nusa Tenggara Timur, sebagai salah satu surga wisata menyelam di Indonesia. Pemilik Air Dive Alor, pusat menyelam scuba di sana, Acionk Arifin mengatakan, beberapa turis asal Singapura dan Malaysia menunda pemesanan mereka.

“Ada booking-an dari Singapura dan Malaysia, mereka sempat tanya tempat kita aman enggak? Mereka masih mikir-mikir, di-pending dulu sambil melihat kondisi bulan depan, karena mereka pesan untuk diving bulan April,” ujar lelaki yang juga berperan sebagai dive master di Air Dive Alor itu.

Dalam setahun, ujar Acionk, rata-rata yang datang ke Air Dive Alor mayoritas memang merupakan wisatawan asing. Perbandingannya sebanyak 70 persen wisatawan asing, dan 30 persen wisatawan lokal.

Berkurangnya jumlah kunjungan oleh turis dari Malaysia dan Singapura ini juga tercatat oleh Badan Pusat Statistik. Pada Januari 2020, dari 1,27 juta kunjungan wisman, jumlah kunjungan pelancong Malaysia sebanyak 206,5 ribu orang. Jumlah ini menurun dari sebanyak 239,8 ribu kunjungan pada Desember 2019.

Perkembangan virus korona di Indonesia

Saat ini, pasien terinfeksi virus korona di Indonesia bertambah. Pemerintah memastikan adanya dua WNI lagi yang dinyatakan positif mengidap virus korona.

Temuan ini disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Korona Achmad Yurianto. Status dua WNI ini diketahui pasca pemerintah memeriksa empat orang yang melakukan kontak dengan Kasus 1 dan Kasus 2.

Pemeriksaan ini dilakukan karena empat orang terkait mengalami gejala flu usai kontak dekat dengan seorang pasien terinfeksi korona.

“Kita dapatkan dua orang confirmed positif [virus korona, yang kita sebut sebagai Kasus Nomor 3 dan 4,” ujar Yurianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Untuk menangani wabah virus korona ini pemerintah pun merilis lima protokol, yakni protokol komunikasi, perbatasan, kemaritiman, transportasi umum dan pendidikan.