Lokadata.ID

Umrah Ramadan 2021 masih tertutup untuk jemaah Indonesia

Sejumlah warga yang pulang menyelesaikan ibadah umrah di Arab Saudi tiba dari Melaka, Malaysia, di Pelabuhan Internasional PT Pelindo I Dumai di Dumai, Riau, Rabu (4/3/2020).
Sejumlah warga yang pulang menyelesaikan ibadah umrah di Arab Saudi tiba dari Melaka, Malaysia, di Pelabuhan Internasional PT Pelindo I Dumai di Dumai, Riau, Rabu (4/3/2020). Aswaddy Hamid / ANTARA FOTO

Arab Saudi sudah membuka pintu untuk penyelenggaraan umrah selama Ramadan. Namun, dari berbagai syarat yang ada, tak ada peluang bagi jemaah Indonesia untuk meramaikan umrah selama Ramadan. Pada era normal, jemaah umrah di Tanah Suci menyamai jumlah jemaah pada musim haji.

Pemerintah Arab Saudi pada Senin lalu menyatakan negaranya siap menerima jemaah umrah selama bulan suci Ramadan 2021. Namun, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mensyaratkan umrah berlaku hanya untuk orang dalam tiga kategori yang dianggap ‘imun’ terhadap Covid-19.

Pertama, izin umrah tersebut hanya diberikan kepada orang-orang yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin Covid-19. Kedua, mereka yang sudah menjalani vaksinasi pertama setidaknya pada 14 hari sebelum umrah. Ketiga, orang-orang yang sudah sembuh dari Covid-19.

Selain syarat vaksin, umrah juga hanya bisa diikuti oleh jemaah yang membawa surat izin berhaji (tasrih) yang dipastikan masa berlakunya melalui Aplikasi Tawakalna. Namun, Pemerintah Arab Saudi saat ini masih membatasi akses terhadap aplikasi Tawakalna hanya untuk mereka yang memiliki identitas nasional Arab Saudi.

Ketua Umum Serikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (SAPUHI), Syam Resfiadi mengatakan pelaksanaan umrah pada awal Ramadan 1.442 Hijriah kali ini sangat ketat dan terbatas. Dia menambahkan kebijakan umrah kali ini masih belum terbuka bagi warga Indonesia.

"Selain syarat yang terkait dengan vaksin, dan isian dalam aplikasi Etamarna atau Tawakalna, Indonesia hingga saat ini masih dikategorikan sebagai salah satu dari 20 negara yang belum mendapatkan akses masuk ke Saudi Arabia," kata Syam Resfiadi kepada Lokadata.id, Rabu (7/4/2021).

Pada 2 Februari 2021, Raja Salman bin Abdulazis Al Saud melarang warga negara Indonesia dan 19 negara lainnya masuk ke negaranya. Pelarangan ini untuk mencegah masuknya varian baru virus Covid-19. Selain negara-negara Eropa dan Amerika, sejumlah negara muslim masuk dalam daftar ini, antara lain Pakistan, Turki, dan Mesir.

"Umrah dengan visa umrah untuk warga Indonesia hingga saat ini belum dibuka kembali. Vaksinasi Covid-19 adalah syarat untuk umrah yang terbatas bagi warga Arab Saudi dan ekspatriat yang saat ini sudah tinggal di sana," kata Syam.

Oleh karena itu, belum ada jemaah Indonesia yang diberangkatkan umrah ke Arab Saudi. Hingga saat ini, Sapuhi masih mengikuti kebijakan pemerintah Arab Saudi dan memantau perkembangan situasi Covid-19. "Kami nggak bisa berbuat apa-apa dalam musim pandemi ini karena terkait dengan Covid-19," katanya.

Konsul Haji KJRI Jeddah, Endang Jumali membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan izin umrah di tengah pandemi diberikan secara terbatas melalui pelbagai prosedur perizinan yang ketat. Selain syarat masuk, pelaksanaan umrah di Tanah Suci juga harus dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

"Untuk pembatasan usia jemaah umrah, masih diberlakukan 18-60 tahun, kecuali bagi warga Saudi menjadi sebelum 70 tahun," kata Endang.

Kebijakan ‘buka-tutup’

Selama pandemi, pemerintah Arab Saudi kerap mengeluarkan kebijakan 'buka-tutup' terkait ibadah haji dan umrah. Pada 27 Februari 2020 lalu, pemerintah Saudi menutup diri (lockdown). Sejak itu, penyelenggaraan umrah ibadah salat wajib, umrah, dan haji tidak diselenggarakan di Mekah dan Madinah.

Kemudian pada 1 November 2020 , pemerintah Arab Saudi kembali membuka Masjidil Haram untuk pertama kalinya usai ditutup karena pandemi. Pembukaan itu sebagai langkah pelonggaran pembatasan akibat pandemi dan memungkinkan sebagian negara melaksanakan umrah.

Akan tetapi, pada 3 Februari 2021, Saudi kembali menutup penerbangan bagi jemaah dari luar negeri untuk melaksanakan ibadah umrah. Kemudian awal Ramadan pada April 2021, otoritas Arab Saudi kembali mengizinkan umrah untuk kalangan terbatas dengan sejumlah syarat.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) M. Farid Al Jawi menjelaskan palarangan tersebut. Pada 20 Desember 2020, Arab Saudi kembali menutup pintu masuk, kecuali bagi negara-negara di sekitar kawasan itu karena adanya varian baru virus korona.

Pintu kembali dibuka pada 2 Januari 2021. Namun setelah itu pintu kembali ditutup pada 3 Februari 2021. Saudi melarang penerbangan internasional dari 20 negara masuk ke wilayahnya, termasuk Indonesia. “Secara total dari 1 November 2020 sampai 3 Februari itu kita sudah memberangkatkan 2.600 jemaah umrah,” kata Farid.

Kebijakan buka tutup ini lalu memunculkan masalah di Tanah Air. Saat ini, ada sejumlah cost yang belum bisa dikembalikan ke jemaah, yaitu tiket penerbangan dan perhotelan. “Kalau hitungan detail memang kita belum dapat karena hampir seluruh jemaah berharap agar (umrah) dibuka kembali supaya tidak menarik dananya,” kata Farid.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (DPP AMPHURI) Firman M. Nur menyatakan penyelenggara umrah sudah kehilangan pendapatan potensial sejak Arab Saudi menutup pintu awal Februari 2020 lalu. Dia memperkirakan hilangnya pendapatan biro penyelenggara umrah sekitar Rp2 triliun per bulan.

Angka tersebut berasal dari jumlah jemaah umrah yang normalnya sebanyak 100.000 orang tiap bulan dikalikan besaran dana umrah Rp20 juta. Angka ini bisa lebih besar karena biaya umrah bisa mencapai Rp30-Rp40 juta. Selain itu, ada kerugian karena dana ada yang tertahan di pihak hotel di Saudi Arabia dan maskapai.