Lokadata.ID

Vaksinasi tak selalu bisa mencegah tertular atau menularkan varian Delta

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin AstraZeneca kepada warga di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (7/8/2021).
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin AstraZeneca kepada warga di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (7/8/2021). Didik Suhartono / ANTARA FOTO

Varian Delta terindikasi bisa mengancam upaya pencegahan penularan dari vaksinasi. Sebuah penelitian terbaru di Inggris menyebutkan warga yang sudah divaksinasi penuh (dua dosis) masih berisiko tertular mutasi Delta dan mereka bahkan bisa menularkan ke yang lainnya.

Temuan dampak varian Delta terhadap vaksinasi ini terungkap dalam penelitian yang diterbitkan oleh Public Health England (PHE) Inggris, Jumat (6/8/2021), seperti dikutip dari Reuters. Menurut ilmuwan PHE, ada tanda-tanda awal yang mengindikasikan bahwa orang yang sudah divaksinasi penuh dapat menularkan varian Delta seperti halnya orang yang belum divaksin.

Penelitian itu menyebutkan, vaksin virus korona memang telah terbukti memberikan perlindungan yang baik pada risiko keparahan penyakit serta kematian akibat varian Delta. Namun, ada sedikit data temuan awal yang menyebutkan, tingkat muatan virus pada mereka yang terinfeksi Delta dan sudah divaksinasi sama halnya dengan tingkat virus pada orang yang belum divaksinasi.

“Temuan ini adalah analisis eksplorasi awal. Studi yang ditargetkan lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi apakah ini masalahnya,” tulis PHE dalam laporannya.

Menurut penelitian tersebut, dari total kasus konfirmasi Delta yang dirawat di rumah sakit di Inggris, 55,1 persen di antaranya tercatat merupakan pasien yang belum divaksinasi. Yang lain, sebanyak 34,9 persen merupakan orang yang sudah divaksinasi dua dosis.

Waspada varian Delta.
Waspada varian Delta. Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Temuan PHE Inggris ini sejalan dengan hasil penelitian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, Minggu (1/8) lalu. Menurut CDC AS, varian Delta dapat menembus perlindungan yang diberikan oleh vaksin Covid-19 atau kerap disebut dengan fenomena breaktrough infection.

Namun, menurut lembaga tersebut, peristiwa infeksi tersebut sangat jarang terjadi. CDC AS juga menyebutkan bahwa vaksin masih sangat efektif dalam mencegah penyakit serius, rawat inap di rumah sakit, dan risiko kematian.

Di luar soal tersebut, menurut CDC AS, varian Delta juga terindikasi memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dibanding sejumlah penyakit lain, seperti: MERS, SARS, Ebola, Flu, dan cacar. Bahkan, lembaga ini menyebut, mutasi Delta sama tingkat penyebarannya dengan cacar air.

Isu utama bagi yang belum divaksinasi

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan, varian Covid-19 Delta sampai saat ini memang masih menjadi isu utama dalam penanganan pandemi. Dia berkata, perhatian khusus perlu diberikan pada mutasi ini karena diduga memiliki tingkat penularan lebih cepat, serta berisiko terhadap tingkat keparahan penyakit dan angka kematian, terutama pada orang yang belum divaksinasi.

Menurut Dicky, hasil penelitian terbaru PHE Inggris ini setidaknya melengkapi penelitian serupa yang di Kanada dan Skotlandia. Dia menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian di dua negara itu, ditemukan bahwa varian Delta berisiko terhadap tingkat keparahan penyakit, terutama pada orang yang sama sekali belum divaksinasi atau baru mendapatkan satu dosis, dibanding varian lainnya.

“Sampai saat ini tetap yang menjadi isu dari varian delta ini adalah pada kelompok yang tidak atau belum divaksinasi. Karena mereka inilah kelompok yang paling berpotensi terinfeksi, termasuk menjadi lebih parah dan mengalami kematian dibanding kelompok yang sudah penuh divaksinasi. Bahkan, yang setengah divaksinasi hampir sama rawannya dengan yang belum divaksin,” kata Dicky kepada Lokadata.id, Senin (9/8).

Kandidat PhD Global Health Security and Pandemic ini mengatakan, soal indikasi varian Delta dapat menginfeksi orang yang sudah divaksinasi serta menularkan ke yang lainnya, hal itu bisa saja terjadi. Menurutnya, ini karena jumlah muatan virus Delta yang diproduksi oleh orang yang divaksinasi maupun belum divaksinasi relatif sama.

Namun, menurut Dicky, ada perbedaan yang jelas bahwa orang yang sudah divaksinasi akan cenderung lebih cepat menurun jumlah virusnya ketimbang mereka yang belum divaksin. “Artinya, orang yang divaksinasi penuh cenderung kurang menularkan dibanding orang yang tidak divaksinasi dan juga durasinya lebih pendek ketika dia berpotensi menularkan,” katanya.

Peraih gelar Master Environmental Health Engineering ini menambahkan, temuan sejumlah penelitian terkait varian Delta ini perlu diwaspadai oleh semua pihak termasuk pemerintah Indonesia. Menurutnya, demi mengantisipasi dampak buruk mutasi tersebut dan lainnya, pemerintah harus memperkuat strategi penanganan pandemi, antara lain: peningkatan 3T (testing, tracing, treatment), penguatan 5M, dan percepatan vaksinasi.

Menurut Dicky, strategi 3T, misalnya, sampai saat ini belum maksimal dan tidak sesuai dengan skala penduduk serta eskalasi pandemi. “Harusnya testing kita itu dilakukan setidaknya satu juta tes per hari. Kalau itu belum dilakukan, artinya kita belum merespons dengan lebih kuat,” katanya.

Sementara untuk 5M, lanjut Dokter lulusan Universitas Padjajaran ini, pemerintah harus terus mengkampanyekan penggunaan masker yang diperkuat serta menekan tingkat mobilitas warga. Dia menambahkan, pemerintah harus mempercepat vaksinasi, terutama pada masyarakat yang memiliki risiko tinggi.

Pemerintah antisipasi

Dikonfirmasi soal penelitian varian Delta terhadap vaksinasi, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, berdasarkan pendapat ahli kesehatan dunia serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sampai saat ini masih disepakati bahwa vaksin Covid-19 mampu mencegah berkembangnya gejala berat dan menurunkan potensi penularan ke orang lain.

“Asalkan vaksinasi telah disuntikkan dosis penuh disertai dengan pilar pengendalian lain, yaitu protokol kesehatan dan upaya 3T secara dini maka peluang terserang apa pun varian Covid-19 yang ada akan semakin kecil,” kata Wiku kepada Lokadata.id.

Perihal penelitian tersebut, menurut Wiku, sebuah studi akan menghasilkan hasil yang semakin valid jika dilakukan di berbagai wilayah. Selain itu, lanjutnya, jumlah subjek penelitiannya juga harus banyak serta beragam agar bisa representatif.

Kepada Lokadata.id, Juru Bicara dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, masih mempelajari soal temuan PHE Inggris tersebut. Namun, menurutnya, pemerintah akan mengantisipasi dengan memperkuat pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) serta mempercepat vaksinasi. “Testing dan tracing diperkuat untuk segera memisahkan kasus yang positif,” kata Nadia.

Data Kementerian Kesehatan mencatat, per Senin (9/8) siang ini, capaian vaksinasi Covid-19 untuk satu dosis baru mencapai 51,18 juta orang. Angka ini setara 24,58 persen dari target 208,2 juta penduduk. Sedangkan, untuk vaksinasi dua dosis baru mencapai 24,48 juta orang atau 11,75 persen dari target. Angka ini masih jauh dari target pemerintah sebesar 70 persen.