Lokadata.ID

Varian Delta menggila, dunia masih jauh dari akhir pandemi

Arsip: Seorang wanita melambaikan bendera kecil AS saat  ambil bagian dalam parade menghormati nakes menangani Covid-19 di New York City, New York, AS  (7/7/2021).
Arsip: Seorang wanita melambaikan bendera kecil AS saat ambil bagian dalam parade menghormati nakes menangani Covid-19 di New York City, New York, AS (7/7/2021). Brendan McDermid / ANTARA FOTO/REUTERS

Setelah India, Indonesia dan beberapa negara di Asia telak dihajar varian Delta virus Korona, kini giliran Amerika dan Cina yang kelimpungan.

Epidemiolog terkemuka Dr.Larry Brilliant memperkirakan dunia masih belum akan mendekati akhir pandemi Covid-19. Menurut dia, sulitnya dunia memberantas penyebaran virus Korona ini tak lain karena munculnya varian Delta sebagai virus paling menular yang pernah ada. Di sisi lain, baru 15 persen populasi dunia yang telah divaksin.

“Pandemi tidak akan segera berakhir, mengingat hanya sebagian kecil dari populasi dunia yang telah divaksinasi,“ kata ahli epidemiologi yang membantu Organisasi Kesehatan Dunia memberantas cacar ini kepada CNBC.

Kecuali semua orang di 200 lebih negara divaksinasi, kata Brilliant, maka masih akan ada varian baru korona lagi yang akan terus bermunculan. Dalam beberapa bulan terakhir saja, Amerika Serikat, India dan Cina, serta negara-negara lain di Eropa, Afrika, dan Asia yang semula telah berhasil melawan pandemi, kini kembali bergulat dengan varian delta.

“Saya pikir kita sekarang justru lebih dekat ke awal daripada akhir pandemi. Kita tidak akan kehabisan huruf Yunani sehingga mungkin ada lebih banyak lagi varian korona yang akan datang,” tutur dia.

AS dan Cina parah lagi

Laporan Reuters, saat ini pandemi di AS kembali mengkhawatirkan. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kondisi di negara bagian Arkansas, di mana hanya delapan tempat tidur ICU yang tersedia pada Senin (9/8/21). Penyebaran cepat varian Delta membuat kasus dan rawat inap di Amerika Serikat melonjak ke angka tertinggi dalam enam bulan terakhir.

"Kami melihat peningkatan satu hari terbesar dalam rawat inap dan telah melampaui rawat inap tertinggi kami sebelumnya," kata Gubernur Arkansas Asa Hutchinson di Twitter.


Di Texas, Gubernur Greg Abbott seperti dikutip The New York Times, telah meminta rumah sakit untuk menunda operasi elektif karena varian Delta mengamuk di sebagian besar wilayah. Pemerintah setempat juga masih bergulat dengan tingkat vaksinasi yang rendah.

Sehari sebelumnya, Florida telah menetapkan rekor harian baru dengan 28.317 kasus, menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS. Angka ini telah mencapai rekor tertinggi selama delapan hari berturut-turut, menurut analisis Reuters.

Secara nasional, Bloomberg mencatat, kasus Covid-19 rata-rata 100.000 selama tiga hari berturut-turut, naik 35 persen selama seminggu terakhir, menurut penghitungan data kesehatan masyarakat Reuters. Louisiana, Florida dan Arkansas melaporkan kasus baru terbanyak dalam seminggu terakhir, berdasarkan populasi. Rawat inap naik 40 persen dan kematian naik 18 persen secara nasional dalam seminggu terakhir.

Pandemi yang kembali memburuk karena varian Delta ini mendorong pembatalan beberapa acara berskala besar di AS. Pekan lalu, penyelenggara membatalkan New York Auto Show yang semula dijadwalkan akhir Agustus. New Orleans Jazz Fest juga dibatalkan untuk tahun kedua berturut-turut karena Louisiana berjuang melawan wabah yang parah.

Kondisi mutakhir ini disebut Forbes sebagai pertanda buruk bagi AS. Sebelumnya banyak pihak percaya akan teori Boom and Bust yang memprediksi bahwa gelombang Delta dapat dengan cepat runtuh.

Varian Delta semula diperkirakan dapat menghilang secepat kemunculannya. Bahkan, mengutip data Inggris dan India, Andy Slavitt, mantan penasihat tim respons Covid-19 Presiden Biden, yakin bahwa varian Delta di AS naik dengan cepat dan turun dengan kecepatan yang sama.

Nyatanya teori itu tak terbukti. Situasi yang berkembang di AS sudah lebih buruk daripada Inggris karena dampaknya lebih besar dalam hal rawat inap dan kematian.

Tak hanya di AS, varian Delta juga menggila di Cina, negeri tempat virus korona pertama ditemukan. AP News melaporkan, jutaan warga kembali dikunci total.

Lockdown kembali ini cukup mengejutkan mengingat sejak Maret tahun lalu, infeksi baru Covid-19 di Cina sudah sangat rendah. Namun sejak Mei 2021, wabah varian Delta kembali bermunculan dari kota selatan Guangzhou. Di Cina, meskipun jumlah infeksi relatif rendah, pemerintah dapat langsung memberlakukan pembatasan ketat untuk menjaga kasus baru serendah mungkin.

Strategi tanpa toleransi untuk mengkarantina setiap kasus ini memang berhasil membuat Cina bebas virus. Tetapi dampaknya terhadap pekerjaan dan kehidupan jutaan orang sangat besar.

Zhang Wenhong, seorang dokter Shanghai yang menjadi terkenal sejak kasus Wuhan, menyarankan pemerintah Xi Jinping mengubah strategi. “Dunia perlu belajar bagaimana hidup berdampingan dengan virus ini,” tulis Zhang, yang memiliki 3 juta pengikut di platform Sina Weibo yang banyak digunakan di negeri tirai bambu ini.

Booster vaksin

Menghadapi varian Delta dan ancaman varian baru yang seperti tak ada habisnya ini, beberapa negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi seperti AS dan Israel sedang merencanakan suntikan booster. Namun, WHO meminta negara kaya untuk menunda booster vaksin Covid dan mengalihkannya untuk negara miskin yang jauh lebih membutuhkan.


Saat ini, mitra Pfizer, BioNTech, sedang bersiap memulai tes untuk meneliti bentuk vaksin Covid-19 yang lebih manjur. Mereka ingin memodifikasi formula vaksin agar memberikan perlindungan lebih baik terhadap varian Delta yang jauh lebih menular.

Fortune memberitakan, uji klinis modifikasi vaksin ini hasilnya baru akan didapat paling cepat pada kuartal IV/2021. Hasil ini akan menunjukkan, apakah kombinasi suntikan yang mencakup inokulasi terhadap Delta dan varian asli yang pertama kali ditemukan di Wuhan, terbukti efektif.

Dari Cina dilaporkan, sejauh ini, sebagian besar orang yang terinfeksi virus Delta di Nanjing telah divaksinasi, namun hanya sedikit kasus yang parah, kata kepala unit perawatan kritis di rumah sakit Universitas Tenggara kota, Yang Yi, kepada Shanghai The Paper. Karena itu, meski ada keraguan bahwa vaksin buatan Cina kalah manjur dibanding vaksin Eropa, tetap saja semua vaksin cukup protektif.