Lokadata.ID

Vespa, si tawon maut pencabut tujuh nyawa

Sandy Nurdiansyah / Beritagar.id

Dalam dua tahun terakhir tujuh warga di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tewas karena disengat tawon. Bukan tawon madu (Apis andreniformis, Apis florea, dan sebangsanya) melainkan tawon endas (Vespa affinis) kata orang Jawa.

Disebut tawon endas (endhas, kepala; bahasa Jawa) karena dianggap sering menyerang kepala manusia. Vespa dalam bahasa Italia berarti tawon, sehingga Piaggio & C. S.p.a. mencomotnya untuk menamai skuter yang kemudian legendaris.

Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Klaten hingga Selasa kemarin(15/1/2019) sudah menangani 15 laporan sarang tawon endas, tapi masih ada 30 laporan yang belum ditindaklanjuti (h/t JawaPos.com).

Laporan tentang sarang tawon Vespa di Klaten sudah tercatat sejak 2016. Dalam arsip Beritagar.id 2017, infografik Ringkasan Sepekan mencatat pernyataan Damkar Kabupaten Sukoharjo, tetangga Klaten, tentang laporan adanya 29 sarang tawon raksasa — tidak disebut tawon endas, yang raksasa menurut warga adalah ukuran sarang — sehingga bikin cemas. Sarang tawon endas bisa berdiameter hingga 200 sentimeter.

Tawon endas tak menghasilkan madu. Sebagai predator, tawon endas memakan serangga selain daun. Adapun tawon madu memakan nektar dan serbuk sari tetumbuhan. Sengatan tawon madu – atau lebah madu – membuat bengkak namun tak sampai membunuh.

Sengatan racun tawon endas semakin berbahaya jika datang dari serangan berkelompok. Jika seekor tawon endas beraksi, terbitlah zat memikat yang akan memancing rombongan untuk mengeroyok korban. Maka jumlah racun yang merasuki tubuh korabn pun berlipat.

Salah seorang dari tujuh korban tawon endas di Klaten adalah seorang kakek, Bardiman, berusia 67 tahun. Warga Dusun Jogodayah, Desa Kalikotes, Kecamatan Kalikotes, Klaten, itu diserbu tawon pada suatu sore, November 2018. Ia meninggal setelah tiga jam ditangani tim medis (h/t RadarSolo).

Di Klaten, menurut Kompas.com, sebaran sarang tawon endas ada di 24 kecamatan. Jika korban sengatan tak tertangani dalam 24 jam ia bisa meninggal.

Sebetulnya tawon endas itu pemakan hama. Maka menurut BBC Indonesia, tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang mengkaji faktor pertambahan makanan bagi tawon endas sehingga populasi kaum penyengat itu bertumbuh pesat.