Lokadata.ID

Virus baru korona banjiri negara berkembang, tak hanya India

Personel tentara Nepal membawa jenazah korban meninggal akibat terinfeksi virus corona  untuk dikremasi  di Kathmandu, Nepal, Jumat (30/4/2021).
Personel tentara Nepal membawa jenazah korban meninggal akibat terinfeksi virus corona untuk dikremasi di Kathmandu, Nepal, Jumat (30/4/2021). Navesh Chitrakar / ANTARA FOTO/REUTERS

Tsunami Covid-19 yang melanda India dengan jumlah kasus mencetak rekor, lebih dari 400 ribu orang per hari, membuat dunia tercengang sekaligus panik. Kenyataannya jauh lebih buruk, karena gelombang mutasi virus korona baru yang ganas juga menghantam negara berkembang lainnya di seluruh dunia.

Live Mint, Selasa (4/5/2021) menyebutkan, negara-negara berkembang mulai Laos, Thailand, hingga yang berbatasan langsung dengan India seperti Bhutan dan Nepal, telah melaporkan lonjakan kasus yang signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Peningkatan ini terutama karena varian baru hasil virus korona yang bermutasi itu lebih menular.

Sabtu (1/5/2021) lalu, India melaporkan 401.993 kasus baru dalam 24 jam, dengan jumlah kematian 3.689 orang. Rumah sakit dan krematorium nasional bekerja lembur untuk mengatasi orang sakit dan melonjaknya jumlah kematian. Krisis makan parah karena fasilitas perawatan kesehatan juga kekurangan oksigen.

Ledakan wabah juga terjadi di Laos yang membuat pemerintah kepayahan mencari peralatan medis akibat kasus yang melonjak lebih dari 200 kali lipat dalam sebulan. Pemerintah pun mengunci ibu kota Vientiane dan melarang perjalanan antarkota dan provinsi.

“Situasinya sangat serius, dan kesulitan ekonomi negara-negara miskin membuat pertempuran semakin sulit,” kata Ali Mokdad, Chief Strategy Officer untuk Kesehatan Populasi di University of Washington. Menurut dia, varian baru virus akan membutuhkan vaksin baru dan booster untuk mereka yang sudah divaksinasi.

Pemetaan mutasi kunci pada struktur kristal furin-cleavage dari SARS-CoV-2 spike glycoprotein (tampilan permukaan abu-abu) secara kompleks dengan ACE2 (pita padat berwarna coklat). Wilayah RBD ditunjukkan dengan warna hijau
Pemetaan mutasi kunci pada struktur kristal furin-cleavage dari SARS-CoV-2 spike glycoprotein (tampilan permukaan abu-abu) secara kompleks dengan ACE2 (pita padat berwarna coklat). Wilayah RBD ditunjukkan dengan warna hijau / news-medical.net

Asia Pasifik terpukul

Nikkei Asia melaporkan bahwa gelombang baru Covid-19 kembali menghantam Thailand tepat ketika negara itu ingin membuka kembali ekonominya yang bergantung pada pariwisata. Thailand melaporkan 2.179 kasus korona baru sehingga total menjadi 59.687 sejak pandemi dimulai. Episentrumnya ada di Bangkok.

Kini, Bangkok telah menutup lebih banyak pusat bisnis termasuk bioskop dan taman selama dua minggu. Pemerintah juga mengenakan denda hingga 20.000 baht (Rp9,2 juta) bagi warga yang tidak mengenakan masker.

“Sekitar 98 persen kasus di Thailand berasal dari varian baru yang pertama kali diidentifikasi di Inggris,” kata Yong Poovorawan, kepala Pusat Virologi Klinis di Universitas Chulalongkorn.

Sementara di Nepal, rumah sakit juga penuh dan kehabisan pasokan oksigen. Meskipun lokasinya tidak terlalu dekat dan tidak ada kontak dengan populasi India, lonjakan yang dilaporkan di negara berkembang ini jauh lebih curam. Meroketnya angka kasus positif ini menandakan potensi bahaya dari penyebaran yang tidak terkendali.

"Sangat penting untuk menyadari bahwa situasi di India dapat terjadi di mana saja," kata Hans Kluge, direktur regional di Organisasi Kesehatan Dunia untuk Eropa, dalam sebuah pengarahan minggu lalu, seperti dikutip Times of India. "Ini masih merupakan tantangan besar."

Berdasarkan peningkatan infeksi baru yang tercatat dalam sebulan terakhir, Laos berada di urutan pertama dengan peningkatan 22.000 persen. Di posisi kedua ada Nepal dan Thailand, yang kasus barunya meroket lebih dari 1.000 persen dalam sebulan ke bulan.

Sri Lanka, negara pulau di ujung selatan India, melakukan lockdown, melarang pernikahan dan pertemuan, serta menutup bioskop. Peningkatan kasus luar biasa juga terlihat di Suriname, di pantai timur laut Amerika Selatan, dengan lonjakan kasus 600 persen.

Di Kamboja, sejak awal wabah, sudah lebih dari 10.000 kasus yang didapat secara lokal telah terdeteksi di lebih dari 20 provinsi. Ibu kota Kamboja, Phnom Penh, sekarang menjadi zona merah.

“Peningkatan kasus yang tercatat di seluruh Pasifik menunjukkan betapa pentingnya untuk tidak hanya bergantung pada pembatasan yang kuat, tetapi untuk benar-benar mengirimkan vaksin ke negara-negara ini,” kata Jonathan Pryke, yang memimpin penelitian di wilayah Pasifik untuk Lowy Institute.

Kasus harian dunia
Kasus harian dunia / worldometers.info/coronavirus

Dunia cemas

Konsorsium Genetika SARS-CoV-2 India atau INSACOG telah menyampaikan adanya mutasi pada beberapa sampel virus korona yang dapat menghindari respons kekebalan. Menurut Reuters, saat ini para ilmuwan sedang mencari penyebab lonjakan kasus saat ini di India dan terutama tentang varian yang pertama kali terdeteksi di negara itu, yang disebut B.1.617.

INSAGOG telah menemukan lebih banyak mutasi pada virus korona yang perlu dilacak dengan cermat. "Kami melihat beberapa mutasi muncul pada beberapa sampel yang mungkin dapat menghindari tanggapan kekebalan," kata Shahid Jameel, ketua INSAGOG.

Kepala staf teknis WHO untuk Covid, Maria Van Kerkhove mengatakan, mutasi virus itu telah terlihat pada varian lain di seluruh dunia. “Varian ini telah terdeteksi di setidaknya 10 negara lain termasuk AS, Inggris, Australia, dan Selandia Baru, ” kata dia dikutip Live Mint.

India sendiri telah mengurutkan genom dari sampel positif pada bulan lalu. “Sepertinya virus itu menyebar lebih cepat daripada varian yang ada sebelumnya,” kata Rakesh Mishra, direktur Center for Cellular and Molecular Biology yang berbasis di Hyderabad.

Di tengah kepanikan dan kecemasan dunia atas kondisi ini, negara maju dituntut untuk peduli dan solider. Ada kewajiban bagi negara-negara maju yang telah pulih dari pandemi berkat inokulasi cepat, untuk berkontribusi pada distribusi vaksin global, tes diagnostik dan oksigen yang lebih adil.

“Negara maju harus menyumbangkan dana dan pada saat yang sama berbagi dengan negara lain kelebihan vaksin yang mungkin mereka miliki,” kata David Heymann, profesor epidemiologi di London School of Hygiene & Tropical Medicine. Sebab, ia menyebut, virus korona hasil mutasi ini akan menjadi risiko di semua negara.