Lokadata.ID

Vivo dan OPPO kuasai pasar ponsel nasional, Samsung tetap raja global

Ilustrasi pedagang ponsel di ITC Roxy Mas, Jakarta (23/1/2020).
Ilustrasi pedagang ponsel di ITC Roxy Mas, Jakarta (23/1/2020). M Risyal Hidayat / ANTARA FOTO

Vivo dan OPPO menjadi penguasa pangsa pasar ponsel pintar di Indonesia pada kuartal IV/2020. Kedua merek Cina ini, menguasai hampir separuh pasar telepon genggam. Vivo meraih 25 persen dan OPPO 24 persen.

Mereka menggerus pemain lama Xiaomi dan Realme, yang masing-masing menguasai 15 persen. Samsung menjadi satu-satunya merek non-China, yang masuk 5 besar, dengan menguasai 14 persen pasar, demikian menurut laporan lembaga riset pasar Canalys.

Pencapaian angka pangsa pasar Vivo pada kuartal IV/2020 ini meningkat 1 persen jika dibandingkan dengan kuartal III/2020.

Meski hanya peringkat kelima di Indonesia, Samsung masih tetap yang terbesar di tingkat global dengan pangsa pasar 20 persen, diikuti oleh Apple dan Huawei masing-masing 16 persen dan 15 persen. Selanjutnya, Xiaomi dan Oppo berada di peringkat keempat dan kelima dengan perolehan pangsa pasar masing-masing 12 persen dan 9 persen pasar global.

Adapun, secara global sepanjang 2020 jumlah pengiriman ponsel pintar mengalami penurunan hingga 7 persen. Adapun, pada kuartal IV/2020 turut ditutup dengan kontraksi hingga 2 persen atau berada di angka 359,6 juta unit.

Riset oleh Canalys tersebut dilakukan berdasarkan pengiriman ponsel pintar yang beredar dari tempat produksi menuju ke toko (sell-in shipment) berupa data estimasi. Artinya, bukan berdasarkan penjualan ke pengguna akhir (sell-out to end user).

Senior Brand Director Vivo Indonesia Edy Kusuma mengatakan bahwa pencapaian ini tak lepas dari kehadiran ponsel flagship Vivo V20, V20 SE, dan V20 2021 yang berada di range harga Rp3-5 juta.

“Keberhasilan Vivo di pasar Indonesia pada kuartal empat 2020 ini didukung portofolio produk yang strategis untuk setiap segmentasi konsumen," kata Edy seperti dikutip Kompas.

Berbeda dengan Vivo, OPPO membidik kelas bawah. “Selama Desember 2020 saja, OPPO menjual lebih dari 1 juta unit smartphone di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri semua vendor akan lebih mudah menjual perangkat di range harga Rp 1 - 2 jutaan,” kata PR Manager OPPO Indonesia, Aryo Meidianto, kepada Lokadata.id, Rabu (24/2/2021).

Namun ponsel kelas menengah atas di range harga Rp2,5 - 5 juta juga memiliki angka penjualan yang sangat baik, terutama pada tipe A33/A53 dan Reno4. Namun Aryo mengakui OPPO menguasai lini seri perangkat pada rentang harga antara Rp3- 5 juta rupiah.

Dari cara penjualan, OPPO masih mengandalkan pasar offline. Meski juga membuka kanal penjualan secara daring dengan memanfaatkan Whatsapp di mana pembeli bisa langsung terhubung dengan sales OPPO.

Aryo mengakui penjualan sempat drop di awal pandemi tetapi membaik ketika pelonggaran diberlakukan di Juni 2020. Penjualan yang meningkat ini didorong oleh kebutuhan masyarakat akan ponsel pintar selama pembatasan sosial akibat pandemi.

Aryo menuturkan penjualan di awal tahun jika dibandingkan dengan periode yang sama pasti ada penurunan. “Meskipun begitu, penerimaan konsumen terutama pada Reno5 series yang meluncur awal 2021 cukup baik, flash sale bisa menjual 400 unit kurang dari 3 menit pada situs e-dagang,” katanya.

Peluang 2021

Pengamat ponsel Herry Setiadi Wibowo menilai bahwa pencapaian Vivo dan OPPO karena kedua produsen ponsel itu memiliki banyak promotor dan sangat agresif. Menurutnya, dua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap angka penjualan.

"Mereka tak segan-segan membujuk calon pembeli ponsel, termasuk calon pembeli merek lain, untuk beralih ke produk mereka," kata Herry kepada Lokadata.id.

Terlebih, pada kuartal IV/2020, penjualan secara offline sudah mulai meningkat setelah turun banyak pada kuartal sebelumnya karena pemberlakuan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) pada awal pandemi Covid-19.

Herry mengatakan, para calon pembeli yang hendak membeli ponsel secara offline tersebut yang dijadikan sasaran oleh para promotor dari dua merek penguasa pangsa pasar ponsel itu.

"Itulah sasaran empuk promotor Vivo dan OPPO. Pasar offline sangat berpengaruh. Mereka sangat agresif mengarahkan konsumen," katanya.

Dia menilai, prospek pangsa pasar ponsel tahun ini tak akan jauh berbeda dibandingkan tahun lalu. Namun, perusahaan ponsel berpeluang menekan biaya distribusi dan lebih giat menjual produknya via jalur online. Lantas, ketika harga jual bisa ditekan, maka produk lebih kompetitif dan peluang konsumen tertarik lebih besar.

"Kondisi pandemi turut mendorong terjadinya tren perilaku konsumen secara online. Pada jalur penjualan offline ponsel yang konvensional, rantainya yaitu dari produsen ke distributor, kemudian ke master dealer, dealer, retailer, dan yang terakhir ke end user. Nah, penjualan online akan memangkas rantai sehingga harga jual akhirnya bisa lebih ditekan," katanya.

Kendati demikian, Herry mengatakan, bahwa strategi penjualan via jalur offline tetap penting bagi perusahaan ponsel, terutama untuk menarik para calon pembeli yang relatif awam.