Lokadata.ID

Waspadai kredit macet ruko di sektor properti

Kredit bermasalah kepemilikan ruko dan rukan yang terus meningkat
Kredit bermasalah kepemilikan ruko dan rukan yang terus meningkat Fadhlan Aulia

Selama kuartal II/2020, industri perumahan atau real estat termasuk yang tumbuh positif, yaitu 2,30 persen, di saat perekonomian nasional mengalami kontraksi. Namun tak semua sektor di properti berjalan mulus. Ada Rp1,5 triliun kredit rumah toko (ruko) dan rumah kantor (rukan) yang bermasalah.

Survei Bank Indonesia tentang Harga Properti Residensial di Pasar Primer triwulan II/2020 mengungkapkan, 78 persen konsumen memilih cara kredit untuk membiayai pembelian properti. Sisanya, dengan cara tunai atau tunai bertahap.

Temuan ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam sembilan tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan kredit pemilikan rumah selalu melampaui kredit umum. Hanya kredit pemilikan ruko dan rukan yang tumbuh lebih rendah.

Selama periode Juni 2012-Juni 2020 itu, rata-rata kredit umum tumbuh 12,59 persen (year on year). Sementara itu, kredit pemilikan rumah tinggal tumbuh 13,54 persen, untuk flat atau apartemen tumbuh 21,50 persen, dan kredit kepemilikan ruko dan rukan tumbuh 7,87 persen.

Sejak Oktober 2017, minat terhadap ruko dan rukan kian lesu. Pertumbuhan kreditnya sudah melorot hingga di bawah nol persen alias negatif. Begitu pandemi, makin lesu lagi. Pada Juni 2020, misalnya, pertumbuhan kredit pemilikan ruko dan rukan mengalami kontraksi terbesar sepanjang sejarah, yaitu tumbuh minus 8,10 persen.

Dari sisi kualitas kredit, selama periode sembilan tahun yang sama, rata-rata kredit bermasalah (non performing loan atau NPL) pemilikan rumah tinggal tak jauh berbeda dengan kredit umum: masing-masing 2,55 persen dan 2,60 persen. Untuk pemilikan flat atau apartemen rata-rata NPL sangat rendah, hanya 1,65 persen, meski trennya terus meningkat sejak Januari 2020.

Namun, untuk kredit ruko dan rukan, kredit bermasalahnya jauh di atas rata-rata kredit umum dan properti lain, yaitu 3,82 persen. Kecenderungan kredit ruko dan rukan yang bermasalah ini terus meningkat sepanjang tahun, sehingga mencapai 6,33 persen pada Juni 2020, atau setara dengan Rp1,5 triliun dari outstanding Rp22,9 triliun.

Kinerja kredit ruko dan rukan akan menyulitkan pertumbuhan kredit properti. Ini ancaman yang perlu diwaspadai, agar kredit untuk rumah tinggal yang tingkat permintaannya masih tinggi, tak ikut terbebani.