logo-lokadata
Aktris transeksual Baby Wijaya: LGBT tak butuh pengakuan
Baby Wijaya berpose dalam sesi pemotretan di kantor Beritagar.id, Jalan Jati Baru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (18/2/2016). Bismo Agung/Beritagar.id

Aktris transeksual Baby Wijaya: LGBT tak butuh pengakuan

Selama belasan tahun Baby merasa terkurung dalam fisik laki-laki. Ia merasa lega setelah menjalani operasi.

Silaunya blitz dan dinginnya ruangan tak diindahkan Baby Wijaya yang masih setia berpose, meski sudah larut. Matanya terus menatap ke arah lensa fotografer, yang belum puas membidik. "Yang bagus ya," katanya ke fotografer.

Baby memamerkan kakinya yang jenjang dengan memakai dua gaun berbeda: abu-abu dan motif batik. Tampak tato malaikat kecil sedang duduk berdoa di betis kanan, yang dibuatnya 9 tahun lalu saat kuliah di Jurusan Desain Grafis Universitas Kristen Petra, Surabaya. "Tato ini dibuatkan teman," ujarnya.

Dari gayanya, Baby tampak amat luwes dan fotogenik, tipikal model pada umumnya. Orang tidak akan mengira dia adalah model transgender yang telah melakukan operasi ganti kelamin empat tahun lalu di Indonesia. "Saya merupakan transeksual," ujar perempuan berusia 30 ini.

Dalam literatur psikologi, transgender didefinisikan sebagai individu yang memiliki gangguan psikologis karena terjebak di tubuh yang salah. Sedang transgender yang sudah melakukan operasi kelamin disebut transeksual.

Selama belasan tahun Baby merasa terkurung dalam fisik laki-laki. Ia merasa lega setelah menjalani operasi. "Bismillah. I'm not fighting myself any more," ujar Baby, yang menjadi mualaf di usia 15.

Tiga puluh tahun silam ia terlahir sebagai laki-laki di Malang, Jawa Timur. Ayahnya berdarah Jawa, ibunya tulen dari Negeri Kembang Tulip. Bungsu dari dua bersaudara ini enggan memberi tahu nama aslinya. "Privasi," kata pemilik tinggi 171 sentimeter ini.

Status sebagai transeksual diakuinya masih dipandang miring, malah sering jadi bahan lelucon masyarakat. "Sulit menghapus stigma itu," katanya. Apalagi, tambah dia, dengan adanya isu LGBT (lesbi, gay, biseksual dan transgender), yang kini lagi hangat diperbincangkan.

Isu LGBT heboh setelah muncul pandangan dari lingkungan institusi pendidikan, menteri hingga politisi. Misalnya, pernyataan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir yang melarang LGBT masuk kampus.

Dari situ polemik merembet ke ulama, tokoh masyarakat, sampai rumor seruan boikot dari Starbucks, yang mempersilakan penentang LGBT untuk angkat kaki dari kedainya.

Isu tambah santer ketika presenter kenamaan dan penyanyi dangdut diduga mencabuli remaja laki-laki. "Karena perilaku oknum, dampaknya jadi ke yang lain," kata Baby, yang selain jadi model dan aktris, juga berprofesi sebagai desainer interior.

Karier Baby di dunia hiburan dimulai dari catwalk tujuh tahun silam. Namanya mulai dikenal kala memerankan Julia Robex dalam film Mati Muda di Pelukan Janda. Kini, ia tengah terlibat dalam sebuah produksi film televisi dan menjadi model videoklip penyanyi pendatang baru.

"Sekarang mau mulai lagi di dunia hiburan, setelah vakum lama," katanya kepada Heru Triyono dan Yandi Mohamad dari Beritagar.id yang mewawancarainya di Cheese Cake Factory, Jalan Cikini Raya Nomor 16, Menteng, Jakarta, Kamis (18/2/2016).

Sesi foto dengan Baby dilakukan di tempat berbeda, yakni di kantor Beritagar.id, Jalan Jati Baru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta, di hari yang sama, dengan fotografer Bismo Agung.

Dengan tutur kata halus dan sistematis, ia menjabarkan dengan terbuka bagaimana sikapnya soal LGBT, serta kehidupan masa kecil dan remajanya--hingga berani memutuskan operasi? Berikut petikannya.

Baby Wijaya berpose dalam sesi pemotretan di kantor Beritagar.id,  Jalan Jati Baru Nomor 28 Tanah Abang, Jakarta, Kamis (18/2/2016).
Baby Wijaya berpose dalam sesi pemotretan di kantor Beritagar.id, Jalan Jati Baru Nomor 28 Tanah Abang, Jakarta, Kamis (18/2/2016). Bismo Agung / Beritagar.id

Dalam beberapa pekan terakhir muncul kontroversi terhadap LBGT di Indonesia dan umumnya didominasi oleh penolakan, apa sikap Anda?
Coba lihat dari berbagai sisi. Mereka menjadi lesbi, gay, biseksual serta transgender karena punya alasan. Bagaimana kalau keturunan kalian seperti itu? Nauzubillah min zalik ya. Kan bisa saja. Saya ini tidak dalam posisi membela siapa-siapa. Kalau Tuhan saja maha pengampun, kenapa mereka harus didiskriminasi.

Menurut Anda, ada monopoli tafsir dari kelompok heteroseksual dalam memahami LGBT, sehingga mereka yang minoritas ini terdiskreditkan?
Mungkin ada oknum yang membuat pemahaman orang jadi berpikir sama rata. Misalnya, soal stigma bahwa mereka (LGBT) ini menular. Padahal kalau tidak ada bibitnya tidak akan bisa. Lagipula saya tidak suka dengan istilah LGBT, karena LGB dan T berbeda.

Kalau LGB itu soal orientasi seksual. Tapi transgender atau transeksual tidak ada hubungannya dengan orientasi itu, karena transgender itu terjebak di dalam raga yang salah, atau ada ketidaksamaan indentitas terhadap jenis kelamin dirinya.

Apakah memungkinkan paradigma atau cara pandang masyarakat tentang LGBT itu berubah?
Agak sulit karena masyarakat saat ini menduga komunitas LGBT sedang melakukan gerakan masif untuk meneguhkan keberadaan mereka. Otomatis muncul gerakan kontra, padahal mereka (LGBT) juga punya hak asasi untuk hidup sebagaimana manusia lainnya.

Hak asasi yang di dalamnya termasuk soal kesetaraan gender menjadi jargon kampanye komunitas LGBT. Ini sebuah propaganda?
Jujur saja saya tidak ikut komunitas atau organisasi manapun, karena lebih suka sendiri saja. Jadi tidak tahu. Saya ya saya, mereka adalah mereka. Bagi saya kampanye oke, tapi cuma untuk sekedar memberitahu bahwa kita ada, tidak untuk mengajak.

LGBT itu tidak butuh pengakuan, karena di Indonesia sulit

Selama ini memangnya mereka mengajak?
Tidak tahu, tapi kalau isi kampanyenya mengajak saya kurang setuju. Tapi saya paham jika ada kelompok atau organisasi menyebarkan idealismenya, itu kan wajar. Organisasi apapun melakukannya.

Artinya Anda tidak terlalu mendukung perjuangan kawan-kawan LGBT, seperti Hartoyo, yang mengampanyekan antidiskriminasi?
Saya mendukung perjuangan itu, tapi bagi saya kampanye tidak terlalu penting. Mereka (LGBT) seperti tak ada yang menerima. Maksudnya begini, orang seperti saya yang sudah memiliki tempat di hati masyarakat dan keluarga tidak perlu pengakuan.

LGBT itu tidak butuh pengakuan, karena di Indonesia sulit. Yang penting, lakukan yang terbaik di bidang pekerjaan kita, dan tunjukkan karya kita ke masyarakat.

Bukankah LGBT kerap mendapat penolakan dari sebuah perusahaan?
Saya masuk perusahaan asing, maka itu tidak ada penolakan. Perusahaan asing tidak peduli latar belakang saya. Yang mereka lihat saya adalah perempuan dan bisa bekerja, cukup. Memang, kalau kerja di instansi negara saya menduga masih ada diskriminasi, dan saya memahaminya.

Bagaimana sikap teman kerja ketika tahu status Anda?
Mungkin mereka tahu, mungkin tidak. Saya bekerja profesional, dan mereka juga. Hal itu saya rasa tidak penting. Tapi saya beruntung tidak pernah mengalami diskriminasi.

Hal yang sama berlaku ketika Anda berkecimpung di dunia hiburan?
Saya sebenarnya trauma diberitakan. Ada infotainmen yang memberitakan pendapat ulama dan psikolog tentang saya. Saya dibilang haram. Judulnya juga menyakitkan, yaitu "Artis Transgender".

Baru-baru ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang mengharamkan seluruh aktivitas LGBT...
Yang saya tahu, transgender terdapat di semua zaman, termasuk di zaman Nabi Muhammad. Yang seperti saya ini disebut Mukhannas, merujuk kepada orang yang mempunyai fisik lelaki tetapi di dalamnya perempuan. Mukhannas tidak tercela dan berdosa, karena tidak dibuat-buat.

Orang seperti saya ada masalah di susunan kromosom, dan ketidak seimbangan hormon, maupun otak. Ada penjelasan ilmiahnya. Sebab itu Nabi Muhammad tidak mengingkari Mukhannas, dan memperbolehkannya masuk ke majelis para wanita.

Tidak khawatir dihujat para ulama?
Begini, dalam hidup kita harus tahu peran masing-masing. Saya berbesar hati dilahirkan dan berperan seperti ini, bahkan dibilang sebagai tanda akhir zaman. Ulama sehebat apapun tahu ada akhir zaman, jadi tidak akan bisa dihalangi lagi.

Mungkin yang ditakutkan masyarakat adalah penyebarluasan ide-ide dari LGBT. Ditambah dengan kasus presenter kenamaan dan penyanyi dangdut diduga mencabuli remaja laki-laki...
Saya tidak pungkiri memang ada ajakan-ajakan dari LGB itu di dunia hiburan, tapi kan yang heteroseksual sama saja. Juga agresif menggoda ke lawan jenis (flirting). Tapi kalau ajakan itu kita tolak ya mereka mundur teratur.

Saya tegaskan lagi, LGBT itu tidak menular, kecuali memiliki bibit. Kalau lurus ya lurus saja.

Dengan banyaknya sekali penolakan terhadap LGBT apakah berdampak signifikan bagi teman-teman?
Pasti ada, karena kasihan yang kerja baik-baik, mulai karir dari nol dan berjuang sendiri. Tidak tahu persoalan, tapi kena image buruk.

Kalau lingkungan di Indonesia tidak kondusif untuk LGBT kenapa tidak terpikir pergi ke luar negara? Beberapa orang memilih opsi itu.
Karena saya cinta Indonesia. Saya juga maunya berpasangan dengan orang lokal, bukan dengan orang luar. Menurut saya semua tergantung pembawaan diri, saya ini bisa diterima di lingkungan apa adanya kok.

Baby Wijaya berpose dalam sesi pemotretan di kantor Beritagar.id,  Jalan Jati Baru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (18/2/2016).
Baby Wijaya berpose dalam sesi pemotretan di kantor Beritagar.id, Jalan Jati Baru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (18/2/2016). Bismo Agung / Beritagar.id

Kapan mulai mengenal dan memahami bahwa diri Anda berbeda dengan yang lain?
Seingat saya adalah ketika taman kanak-kanak. Perilaku dan suara saya tidak selayaknya anak lelaki. Saya lebih suka bermain boneka dan film kartun perempuan seperti Sailor Moon ketimbang bermain bola. Saya juga sering berlama-lama di depan cermin.

Ketika kecil memangnya sudah berdandan seperti perempuan?
Enggak. Baru bisa setelah duduk di bangku kuliah, saya bebas dandan. Karena saat sekolah terbatas oleh seragam.

Apakah keluarga bisa menerima kondisi Anda itu?
Mereka mengikuti tumbuh kembang saya. Artinya sudah tahu, meski awalnya mereka berharap saya jadi laki-laki. Tapi mereka lama-lama sadar bahwa saya berbeda, karena penjelasan psikolog juga.

Mulai kapan Anda konsultasi ke psikolog soal transgender?
Ketika kuliah. Banyak hal yang saya ceritakan ke dia (psikolog). Dan, setelah konsultasi intens, saya putuskan melakukan operasi, yang sebenarnya sudah ingin saya lakukan sejak SMA (Sekolah Menengah Atas).

Kalau remaja lain cita-citanya ingin jadi dokter atau apa, kalau saya ingin berubah dengan operasi. Informasi operasi saya dapatkan dari riset di internet.

Kami penasaran. Sebelum menjalani operasi, Anda berpacaran dengan laki-laki atau perempuan?
Ya dengan laki-laki. Saya tidak pernah dengan perempuan, karena bukan lesbi. Tapi pacarannya dalam versi dekat saja, bukan dalam arti sebenarnya.

Dokter tidak akan melakukan operasi tanpa persetujuan psikiater. Itu syarat utama

Apakah mudah melakukan operasi ganti kelamin di Indonesia, maksudnya dilegalkan?
Operasi tidak boleh sembarangan, ada tahapannya. Pertama tes kromosom dan hormon, juga wawancara psikiater. Kalau tes itu hasilnya saya cenderung ke perempuan, maka baru diperbolehkan.

Prinsipnya, dokter tidak akan melakukan operasi tanpa persetujuan psikiater. Itu syarat utama. (Baby tidak mau mengungkapkan rumah sakit yang mengoperasinya).

Boleh tahu bagaimana prosesi operasi ganti kelamin itu dilakukan?
Prosesnya sehari, dengan bius total. Kira-kira lima hari saya dirawat. Namun, sebelum operasi, dilakukan terapi hormon lebih dulu. Jadi, pertumbuhan hormon lelaki saya disetop. Dan hormon wanitanya yang dibiarkan berkembang.

Setelah terapi hormon dihentikan, baru dilakukan operasi. Pemulihannya cukup lama, yaitu tiga bulan.

Setelah menjalani operasi, apakah ada tindakan lanjutan yang harus dilakukan?

Hanya terapi obat hormon. Dua kali dalam sehari saya minum obat oral. Ya sebulan saya habis Rp1,5 juta untuk obat itu. Mau bantu? ha-ha

Berapa total biaya untuk operasi ganti kelamin itu?
Ketika itu kisaran Rp120-an juta. Saya mengumpulkannya sendiri, karena keluarga tidak tahu. Saya bekerja paruh waktu di majalah fashion After Five di Surabaya sambil kuliah. Keluarga tidak pernah tanya secara langsung sampai sekarang. Tapi hubungan kami baik-baik saja.

Saya ini kategori terlambat operasinya. Kalau di luar negeri, saat orangtua tahu anaknya seperti saya, maka di usia 18 sudah dioperasi. Operasi dini dilakukan agar pembentukan fisik laki-lakinya belum dominan. Maka itu saya mau rencana operasi lagi untuk menyempurnakan.

Ada rencana operasi bagian tubuh mana lagi?
Muka, tulang leher dan jakun. Jakun ini mengganggu penampilan, tapi sayangnya operasi jakun bisa pengaruh ke pita suara. Saya jadi mikir-mikir jika gagal. Soalnya suara saya sejak kecil memang lembut seperti perempuan.

Selesai operasi, apakah sulit mengurus penggantian status jenis kelamin di KTP (Kartu Tanda Penduduk)?
Saya mengurusnya di Pengadilan Negeri Surabaya, dengan surat permohonan penggantian status. Bisa saja dilakukan, toh saya legal melakukan operasinya.

Apa sisi laki-laki yang masih tersisa dari Anda?
Apa ya. Sudah enggak ada sih, paling lari-lari doang.