Lokadata.ID

Tren zakat dan sedekah daring: mudah, transparan

Warga penerima zakat mal menunjukkan KTP dan nomer antrean bank di kantor lembaga penyaluran zakat Baitul Mal Lhokseumawe, Aceh, Rabu (29/4/2020).
Warga penerima zakat mal menunjukkan KTP dan nomer antrean bank di kantor lembaga penyaluran zakat Baitul Mal Lhokseumawe, Aceh, Rabu (29/4/2020). Rahmad / ANTARA FOTO

Peningkatan nilai transaksi zakat dan donasi daring saat ini bisa jadi tidak hanya disebabkan tibanya Hari Raya Idulfitri 1441 Hijriah di tengah pandemi Covid-19. Tren kenaikan nilai transaksi zakat daring memang sudah terjadi beberapa tahun ke belakang, akibat adanya pergeseran perilaku masyarakat.

Kenaikan nilai zakat dan donasi daring yang dikumpulkan sejak beberapa tahun ini diakui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Lembaga ini mencatat nilai pengumpulan zakat daring terus meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Baznas, nilai zakat daring yang pertama kali mereka himpun pada 2016 lalu hanya senilai Rp500 juta. Hanya berselang 3 tahun lalu, angkanya sudah melonjak signifikan menjadi Rp40,4 miliar per akhir 2019.

Pada 2020, Baznas menargetkan pengumpulan zakat dan sedekah daring hingga Rp70 miliar. Pengumpulan secara daring ini dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai platform.

Kenaikan transaksi zakat daring juga dialami Bukalapak. CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin berkata, pertumbuhan zakat yang disalurkan melalui layanan Bukazakat hingga kini mencapai 70 persen.

Data pengumpulan zakat dan sedekah digital yang dilakukan BAZNAS sejak 2016
Data pengumpulan zakat dan sedekah digital yang dilakukan BAZNAS sejak 2016 BAZNAS / BAZNAS

Platform belanja daring Shopee Indonesia juga mencatat pengumpulan zakat daring yang tak berbeda jauh. Hingga Jumat (15/5/2020), nilai zakat dan donasi yang sudah dikumpulkan Shopee Indonesia mencapai Rp730 juta.

Dana yang dihimpun ini akan disalurkan Shopee Indonesia melalui kerjasama dengan platfrom Benihbaik. Kemudian, sisanya disampaikan melalui Baznas.

Kondisi tak jauh beda dialami e-commerce Tokopedia. Head of Tokopedia Salam Garri Juanda mengatakan, penggunaan fitur zakat fitrah dan zakat mal di perusahaannya “meningkat menjadi 3 kali lipat selama periode Ramadan tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya.”

Garri juga menyebut, ada kenaikan nilai transaksi pada fitur donasi yang disediakan Tokopedia. Dalam periode Maret-April 2020, nilai transaksi via fitur tersebut naik 20 kali lipat secara tahunan.

Kenaikan jumlah sumbangan yang dikumpulkan secara daring juga dicatat para penyedia layanan dompet digital yakni OVO, Go-Pay, dan LinkAja.

Di OVO, donasi yang sudah terkumpul hingga Sabtu (16/5) mencapai Rp2,8 miliar. Kemudian, penghimpunan zakat dan donasi oleh LinkAja disebut terus naik hingga empat kali lipat sejak Maret 2020. Pada Go-Pay, nilai zakat dan donasi yang sudah terkumpul hingga kini mencapai Rp74 miliar.

“Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia telah menyadari pentingnya berbagi untuk membantu sesama di masa sulit ini,” ujar Managing Director Go-Pay Budi Gandasoebrata kepada Lokadata.id, Rabu (20/5/2020).

Perubahan perilaku masyarakat

Menurut CEO Rumah Zakat Nur Effendi, kenaikan pengumpulan zakat dan donasi secara daring menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk tetap berdonasi, meskipun ada pembatasan kegiatan dan physical distancing.

“Tahun lalu pengumpulan secara digital tumbuh 30 sampai 40 persen, tetapi sekarang karena ada perubahan mestinya bisa tumbuh hingga 85 sampai 90 persen hingga akhir Ramadan,” ujar Nur kepada Lokadata.id.

Petugas menunjukkan aplikasi untuk berzakat saat pelayanan zakat mal di Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (23/5/2019).
Petugas menunjukkan aplikasi untuk berzakat saat pelayanan zakat mal di Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (23/5/2019). Andreas Fitri Atmoko / ANTARA FOTO

Rumah Zakat bukan merupakan pemain baru dalam hal penyaluran zakat dan sedekat secara daring. Hal ini sudah dilakukan mereka sejak 2016.

Digitalisasi pengumpulan zakat dilakukan karena hal ini mempermudah pengelolaan dana, dan lebih transparan karena masyarakat bisa langsung memantau donasi mereka.

Ihwal pengelolaan dana yang lebih transparan akibat penggunaan metode daring juga diakui Direktur Utama Baznas Arifin Purwakananta. Dia berkata, “pengelolaan dana menjadi lebih transparan, begitu masuk uangnya bisa dicek secara real time.”

Selain untuk membantu masyarakat yang berhak, pengumpulan sedekah digital selama ini juga sudah banyak digunakan untuk membangun sarana dan prasarana publik. Salah satunya yakni Masjid.

Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Imam Addaruqutni berkata, hingga kini sudah beberapa kali DMI meresmikan pembangunan masjid yang sebagian besar dananya berasal dari sumbangan digital. Sayang, ia tak memiliki data berapa jumlah masjid atau sarana lain yang sudah dibangun atas pengumpulan sedekat daring.

“Saya pernah meresmikan masjid di Lombok Utara yang dibangun dari digital money. Itu kerja sama DMI dengan suatu yayasan yang memang khusus untuk pembangunan masjid," ujar Imam kepada Lokadata.id, Kamis (21/5).

Secara resmi, DMI sejak 2019 sudah bekerjasama dengan platform Go-Pay dalam hal pengumpulan sedekah daring. Kerjasama ini dibuat dengan maksud mempermudah pengumpulan sedekah atau amal jemaat di berbagai masjid.

Pengumpulan zakat dan sedekah digital diizinkan karena dalam hukum Islam, pemberi sumbangan tak melulu harus bertemu dengan calon penerima. Unsur yang terpenting dalam penyaluran zakat, ujar Nur, adalah keberadaan pemberi zakat, harta, dan penerima zakat.

Keabsahan penyaluran zakat secara daring juga sudah disampaikan Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Asrorun Ni’am Sholeh. “Di dalam fiqih tidak harus ada ijab qabul secara fisik bertemu,” ujar Asrorun dalam konferensi pers, Senin (18/5).